Pabrik Bioetanol Glenmore Siap Mendukung Energi Bersih

  • 07 Feb 2026 22:35 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi bakal menjadi salah satu daerah pemasok bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan melalui pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas produksi 30 ribu kiloliter per tahun. Pembangunan pabrik tersebut berada di kawasan Pabrik Gula Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pabrik bioetanol tersebut merupakan bagian dari agenda transisi energi nasional yang memproduksi bahan bakar bersih berbasis tebu guna mendukung bauran energi serta substitusi impor BBM. Bahan baku yang digunakan berasal dari molase atau tetes tebu yang diolah menjadi bioetanol sebagai energi terbarukan.

Pembangunan Pabrik bioetanol ini, merupakan sinergi antara PT Pertamina bersinergi dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di atas lahan seluas 10 hektare. Proyek tersebut masuk dalam fase pertama program hilirisasi yang dijalankan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, keberadaan pabrik bioetanol akan berkontribusi pada penyediaan energi bersih nasional sekaligus memperkuat peran Banyuwangi dalam mendukung ketahanan energi.

“Bioetanol merupakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan. Pabrik ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional,” ujar Ipuk, Sabtu, 7 Februari 2026.

Ipuk menambahkan, pabrik bioetanol juga akan memaksimalkan penyerapan tebu petani, khususnya di Banyuwangi dan daerah sekitar.

“Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar akan terserap lebih maksimal, karena selain untuk produksi gula, juga dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol,” tutur Ipuk.

Pembangunan pabrik bioetanol direncanakan dimulai pada Juni 2026 dengan estimasi waktu pengerjaan selama 24 bulan. Tahap awal proyek tersebut telah ditandai dengan pelaksanaan groundbreaking pada Jumat, 6 Februari 2026.

Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menyampaikan, pabrik bioetanol Glenmore diproyeksikan mampu menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun berbasis tebu.

“Ini merupakan transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih. Dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, produksi bioetanol akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat,” ujar Agung.

Agung menjelaskan, hasil produksi bioetanol dari pabrik Glenmore nantinya akan dikirim ke Terminal BBM Pertamina untuk kemudian disalurkan ke masyarakat melalui SPBU Pertamina. Saat ini, Pertamina telah menyalurkan produk Pertamax Green 95 dengan kandungan etanol 5 persen melalui 177 SPBU di Pulau Jawa.

“Ke depan, wilayah implementasi akan diperluas dan kandungan etanol akan ditingkatkan, seiring dengan tren global penggunaan bahan bakar bersih berbasis etanol,” ungkap Agung.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara Mahmudi memastikan ketersediaan bahan baku molase untuk mendukung operasional pabrik bioetanol dalam kondisi aman.

“Dari sisi feedstock sangat mencukupi. Kebutuhan sekitar 120 ribu ton molase per tahun dapat dipenuhi, karena produksi molase PT SGN hampir 700 ribu ton dan didukung lima pabrik gula di sekitar Banyuwangi,” ujar Mahmudi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....