Antisipasi Virus Nipah, Pengawasan Bandara Lombok Diperketat

  • 03 Feb 2026 16:43 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Mataram memperketat pengawasan di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam), Lombok, menyusul merebaknya virus Nipah di sejumlah negara Asia. Pengawasan dilakukan baik di terminal domestik maupun internasional.

Kepala BKK Kelas I Mataram, dr. Aulianto, mengatakan seluruh penumpang yang tiba di Lombok tetap dipantau secara ketat, terutama penumpang internasional yang datang dari negara transit seperti Malaysia dan Singapura, termasuk jemaah umrah.

“Di terminal internasional, setiap orang yang masuk ke Indonesia wajib mengisi deklarasi kesehatan melalui aplikasi All Indonesia. Dari situ kami memantau kondisi kesehatan mereka,” kata Aulianto kepada RRI Mataram, Selasa, 3 Februari 2026.

Selain pemeriksaan dokumen kesehatan, BKK juga memasang thermal scanner untuk memindai suhu tubuh penumpang. Alat serupa juga digunakan di terminal domestik. Petugas kesehatan disiagakan untuk melakukan pemantauan langsung terhadap penumpang yang baru tiba.

Menurutnya, jemaah umrah yang masuk melalui bandara domestik tetap dalam pengawasan. “Biasanya mereka transit di Jakarta atau Surabaya. Di bandara asal sudah dilakukan pengawasan, dan saat tiba di Lombok tetap kami pantau,” ujarnya.

BKK Mataram juga melakukan sosialisasi kepada sejumlah perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja dari luar negeri agar ikut membantu pengawasan kesehatan. Perusahaan diminta melaporkan apabila ada pekerja yang baru tiba dan mengalami gejala demam dalam satu hingga dua hari.

Sejauh ini, BKK Mataram memastikan belum ditemukan indikasi kasus virus Nipah pada pelaku perjalanan yang masuk ke NTB. “Dari hasil pemantauan, seluruh penumpang masih dalam kategori hijau. Tidak ada peningkatan suhu tubuh, dan semua mendeklarasikan diri dalam kondisi sehat,” katanya.

Terkait kedatangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang dari Malaysia, Aulianto menegaskan mekanisme pengawasannya sama. Jika ditemukan penumpang dengan gejala seperti batuk meski suhu tubuh belum melewati 37,5 derajat Celsius, BKK akan meneruskan notifikasi ke dinas kesehatan kabupaten atau kota untuk pengawasan lanjutan.

“Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan langsung di bandara, kecuali ditemukan penumpang dengan demam tinggi dan gejala yang mengarah. Jika itu terjadi, kami akan melakukan swab dan merujuk ke rumah sakit rujukan,” ujarnya.

Aulianto juga mengimbau wisatawan yang berkunjung ke NTB untuk waspada terhadap gejala penyakit, mengingat virus memiliki masa inkubasi. “Kalau mengalami demam, batuk, atau pilek saat berada di NTB, segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit,” katanya.

Ia menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, serta menggunakan masker saat mengalami gangguan pernapasan. “Ini penting untuk mencegah penularan dan melindungi diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....