Kisah Haikal Al-Ghifari: Dari Metode Talqin hingga Syiar Al-Qur’an Internasional

  • 08 Mar 2026 14:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Balikpapan - Momentum peringatan malam Nuzulul Qur’an di Masjid Madinatul Iman Islamic Center Balikpapan beberapa waktu lalu menjadi sangat berkesan bagi Muhammad Haikal Al-Ghifari. Penghafal Al-Qur'an muda ini menerima penghargaan berupa uang tunai Rp125 juta diserahkan langsung oleh Walikota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, atas dedikasi dan prestasi gemilangnya dalam menjaga kemurnian ayat-ayat suci.

Perjalanan Haikal menjadi seorang hafiz dimulai sejak usia lima tahun. Di bangku taman kanak-kanak, ia dibimbing orang tuanya menggunakan metode talqin, proses mendengarkan dan mengulang bacaan secara konsisten.

Meski sempat menghadapi kesulitan dan membutuhkan pengorbanan besar di masa kecil, Haikal mampu menuntaskan hafalan 30 juz pada usia 13 tahun saat menempuh pendidikan di pondok pesantren.

“Awalnya motivasi saya adalah kemuliaan mengenakan mahkota kepada kedua orangtua saya dan pakaian megah di akhirat. Namun, seiring berjalannya waktu, menghafal Al-Qur'an menjadi langkah hidup yang mengalir alami. Fokus saya kini adalah menjaganya hingga akhir hayat,” ujar Haikal kepada RRI pada Minggu, 8 Maret 2026.

Tahun 2023 menjadi titik balik karier kompetisinya. Dimulai dari seleksi tingkat kecamatan pada cabang hafalan 20 juz, Haikal terus melaju ke tingkat provinsi hingga mewakili Kalimantan Timur di ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional. Puncaknya, pada tahun 2025, ia berhasil membawa nama Indonesia di ajang MTQ Internasional yang diselenggarakan di Brunei Darussalam.

Di tengah arus modernisasi, Haikal menekankan bahwa menghafal Al-Qur'an adalah cara terbaik untuk meningkatkan nilai diri (value) dan kemandirian pribadi.Menanggapi fenomena ketergantungan generasi muda pada gawai (gadget), ia berbagi kiat suksesnya.

“Saya juga menggunakan teknologi, namun pada masa krusial menghafal, orang tua saya sangat membatasi penggunaan gawai. Hal ini meminimalkan distraksi sehingga saya bisa fokus sepenuhnya pada target hafalan,” ungkapnya.

Haikal berharap prestasinya bukan sekadar menjadikannya populer atau sebagai model peran semata, melainkan menjadi sarana syiar agama dan pemantik semangat bagi generasi muda lainnya untuk tetap mencintai Al-Qur'an di tengah tantangan globalisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....