Tuchel Akui Inggris Kehilangan Identitas saat Disingkirkan Argentina
- 17 Jul 2026 07:32 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel mengakui timnya kehilangan kendali permainan saat kalah 1-2 dari Argentina pada semifinal Piala Dunia FIFA 2026. Ia bahkan menilai karakter permainan Inggris harus berubah agar mampu bersaing di level tertinggi.
Inggris sempat unggul lebih dulu melalui gol Anthony Gordon pada menit ke-55. Namun, Argentina bangkit lewat Enzo Fernandez sebelum Lautaro Martinez memastikan kemenangan sekaligus mengantarkan Albiceleste ke final.
Tuchel mengungkapkan, perubahan momentum setelah gol Inggris menjadi titik balik pertandingan. Menurutnya, anak asuhnya terlalu pasif sehingga gagal mempertahankan penguasaan bola dan memberi ruang bagi Argentina untuk mendominasi laga.
"Kami menjadi terlalu pasif dalam struktur permainan. Itu bukan rencana kami, tetapi itu terjadi. Kami harus kembali menguasai bola karena tanpa itu kami tidak bisa mematahkan tekanan lawan dan mengembalikan momentum pertandingan," kata Tuchel.
Pelatih asal Jerman itu juga menyoroti perbedaan karakter bermain Inggris dibanding sejumlah negara besar lain yang terbiasa mengontrol pertandingan melalui penguasaan bola.
"Mungkin menguasai bola bukan bagian dari DNA kami seperti Spanyol, Argentina, atau Brasil. Namun, itu menjadi masalah besar yang harus kami ubah," ujarnya.
Data pertandingan menunjukkan dominasi Argentina begitu mencolok setelah Inggris unggul. Dalam rentang waktu hingga gol penyeimbang Enzo Fernandez, Inggris hanya menguasai bola sekitar 12 persen dan menyelesaikan 26 umpan sukses. Sebaliknya, Argentina terus menekan dengan ratusan operan di area sepertiga akhir lapangan hingga akhirnya membalikkan keadaan.
Pernyataan Thomas Tuchel menjadi pengakuan paling jujur mengenai kelemahan utama Inggris selama bertahun-tahun. Masalah The Three Lions bukan semata kualitas pemain, melainkan kesulitan mengendalikan tempo ketika sudah unggul.
Saat memimpin 1-0, Inggris justru memilih bertahan terlalu dalam. Pergantian pemain yang lebih defensif membuat Argentina semakin leluasa menguasai bola. Akibatnya, Lionel Messi memperoleh ruang lebih besar untuk mengatur serangan dan menciptakan dua assist yang mengubah jalannya pertandingan.
Ucapan Tuchel mengenai "DNA" bukan berarti Inggris tidak memiliki pemain berkualitas, melainkan belum memiliki budaya mempertahankan keunggulan melalui kontrol permainan seperti yang dilakukan Argentina, Spanyol, atau Brasil. Selama persoalan itu belum diatasi, Inggris akan terus kesulitan menghadapi negara-negara elite di fase gugur Piala Dunia.
Kekalahan dari Argentina sekaligus memperpanjang catatan buruk Inggris yang selalu tersingkir setiap menghadapi tim peringkat 10 besar dunia pada fase gugur Piala Dunia sejak edisi 1998.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....