124 Sekolah di NTB Rampung Revitalisasi, Sistem Double Shift Mulai Ditinggalkan
- 18 Mei 2026 07:01 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Pemerintah merampungkan revitalisasi 124 sekolah di Kabupaten Lombok Timur dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, meresmikan 124 sekolah yang selesai direvitalisasi di NTB. Peresmian dilakukan di SMK Negeri 1 Sikur, Lombok Timur.
- Mendikdasmen, Abdul Mu'ti mengatakan pembangunan fisik sekolah dan digitalisasi pembelajaran merupakan bagian dari strategi pemerintah memperbaiki mutu pendidikan nasional.
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Pemerintah merampungkan revitalisasi 124 sekolah di Kabupaten Lombok Timur dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Program itu mulai mengubah wajah pembelajaran di sejumlah sekolah yang selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan ruang kelas hingga harus menerapkan sistem belajar bergilir.
Peresmian revitalisasi dilakukan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, di SMK Negeri 1 Sikur, Lombok Timur, Ahad, 17 Mei 2026. Sebanyak 87 sekolah berada di Lombok Timur, sedangkan 37 lainnya di Kabupaten Sumbawa.
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti mengatakan pembangunan fisik sekolah dan digitalisasi pembelajaran merupakan bagian dari strategi pemerintah memperbaiki mutu pendidikan nasional. Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan kurikulum, tetapi juga ditopang sarana belajar yang layak.
“Dengan kualitas layanan pendidikan yang lebih baik, kita berharap mutu pendidikan juga meningkat,” kata Mu’ti.
Pada 2025, pemerintah mengalokasikan bantuan revitalisasi untuk 531 sekolah di Nusa Tenggara Barat dengan total anggaran mencapai Rp527,5 miliar. Bantuan itu mencakup sekolah dari jenjang PAUD hingga SLB dan PKBM.
Lombok Timur menjadi daerah dengan penerima bantuan terbesar, yakni 87 sekolah dengan nilai Rp105,9 miliar. Sementara Kabupaten Sumbawa menerima bantuan untuk 37 sekolah senilai Rp38,1 miliar.
Selain pembangunan gedung sekolah, pemerintah juga menjalankan program digitalisasi pembelajaran melalui distribusi 7.080 Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah di NTB dengan total anggaran Rp236,1 miliar.
Mu’ti mengatakan program tersebut bertujuan memperluas akses teknologi pendidikan hingga ke daerah. “Setiap anak berhak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu dan akses teknologi modern,” ujarnya.
Di SMK Negeri 1 Sikur, revitalisasi menghadirkan ruang praktik baru dan tambahan ruang kelas. Kepala sekolah Hasbi Ahmad mengatakan bantuan senilai hampir Rp1 miliar itu membantu mengatasi keterbatasan fasilitas yang sebelumnya menghambat kegiatan belajar mengajar.
Sebelum revitalisasi, sekolah menerapkan sistem double shift karena jumlah ruang belajar tidak mencukupi. Kini seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran pada pagi hari. “Motivasi anak-anak untuk datang ke sekolah semakin tinggi karena ruang belajar sudah lebih nyaman,” kata Hasbi.
Menurut dia, bangunan baru dengan pencahayaan dan ventilasi lebih baik ikut memengaruhi suasana belajar siswa. Kondisi serupa dialami SLB Negeri 3 Lombok Timur.
Kepala sekolah Azri Sofyan mengatakan sebelum revitalisasi, tiga rombongan belajar terpaksa menggunakan satu ruangan secara bersamaan. Sekolah itu kini memperoleh tambahan dua ruang kelas, dua ruang keterampilan, dan fasilitas toilet baru.
“Sekarang kegiatan belajar jauh lebih kondusif,” ujar Azri.
Dinas Pendidikan Lombok Timur menyebut revitalisasi dan digitalisasi menjadi langkah penting memperbaiki kualitas lingkungan belajar di sekolah-sekolah daerah. Kepala Dinas Pendidikan Lombok Timur, Nurul Wathoni, mengatakan pemerintah daerah terus memperbarui data sekolah melalui Dapodik agar bantuan pendidikan lebih tepat sasaran.
Perubahan fasilitas juga dirasakan para siswa. Adinda, murid SMK Negeri 1 Sikur, mengatakan laboratorium baru membuat pembelajaran praktik menjadi lebih nyaman dibanding sebelumnya.
“Dulu ruangannya panas dan gelap. Sekarang lebih luas, terang, dan nyaman,” katanya.
Sementara itu, Natasha, siswa Program Keahlian Kecantikan, menilai laboratorium baru membuat proses praktik lebih optimal karena tidak lagi menggunakan ruang gabungan yang sempit. “Sekarang kami jadi lebih semangat belajar,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....