Slow Jogging, Solusi Olahraga Aman untuk Lansia, Pemula, dan Penyintas Cedera
- 18 Jul 2026 07:50 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Ranai - Slow jogging menjadi tren olahraga di Korea Selatan yang semakin diminati di berbagai negara. Berbeda dengan lari pada umumnya, slow jogging dilakukan dengan kecepatan setara berjalan kaki, yakni sekitar 3–5 kilometer per jam, menggunakan langkah pendek sekitar 180 langkah per menit.
Melansir dari unggahan Instagram @siloamhospitals, metode olahraga ini telah diteliti oleh Prof. Hiroaki Tanaka dari University of Fukuoka, Jepang, sejak 2015. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa slow jogging mampu membakar kalori hingga dua kali lebih banyak dibandingkan berjalan kaki biasa dalam durasi yang sama, dengan estimasi pembakaran energi sekitar 400–600 kilokalori per jam.
| Baca juga: Cara Mengatasi Kram Perut saat Hamil |
Selain membantu membakar kalori, slow jogging juga menjaga detak jantung tetap berada pada zona pembakaran lemak. Kondisi ini membuat tubuh dapat membakar lemak secara optimal tanpa menimbulkan rasa lelah berlebihan, sehingga olahraga ini cocok dilakukan secara rutin oleh berbagai kalangan.
Dari sisi kekuatan otot, slow jogging melibatkan hampir seluruh bagian tubuh. Otot inti yang terdiri dari otot perut dan punggung bawah, bekerja menjaga postur tetap tegak, sementara otot gluteus membantu mempertahankan stabilitas panggul selama melakukan langkah-langkah pendek secara berulang.
| Baca juga: Beragam Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil |
Otot paha depan, hamstring, serta otot betis juga bekerja secara konsisten untuk mengangkat dan mendorong tubuh. Teknik pendaratan kaki pada bagian tengah atau depan telapak kaki membuat otot betis menjadi lebih aktif dibandingkan saat berjalan biasa.
Tak hanya memperkuat otot, slow jogging juga memberikan manfaat bagi berbagai organ tubuh. Aktivitas ini merangsang pelepasan hormon endorfin dan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang mendukung kesehatan otak dan membantu menurunkan risiko demensia.
Di sisi lain, kapasitas paru-paru meningkat secara bertahap melalui efisiensi pertukaran oksigen, sementara jantung beradaptasi dengan meningkatkan kemampuan memompa darah sehingga kebugaran kardiorespirasi menjadi lebih baik. Selain itu, sensitivitas insulin juga meningkat sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp.ALK(K), menjelaskan bahwa slow jogging cocok dilakukan oleh orang dengan obesitas yang tidak dianjurkan menjalani olahraga berintensitas tinggi. Seperti seseorang yang sedang menjalani pemulihan pascaoperasi atau cedera, lansia yang ingin menjaga massa otot, dan orang yang memiliki risiko gangguan jantung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....