Kejadian pada Otak yang Sulit dijelaskan

  • 14 Jul 2026 22:11 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari – Selain déjà vu yang membuat seseorang merasa pernah melihat atau mengalami suatu kejadian sebelumnya, terdapat fenomena psikologis lain yang lebih jarang dikenal, yaitu déjà senti. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis yang berarti "sudah pernah dirasakan" atau "already felt".

Menurut Pacific Neuropsychiatric Institute (PNI), déjà senti merupakan salah satu variasi dari pengalaman déjà yang ditandai dengan munculnya perasaan, emosi, atau sensasi yang terasa sangat familiar, seolah-olah pernah dirasakan sebelumnya, meskipun seseorang tidak dapat mengingat kapan atau dalam situasi apa perasaan tersebut pernah muncul.

Berbeda dengan déjà vu yang berkaitan dengan pemandangan atau situasi, serta déjà visité yang berhubungan dengan suatu tempat, déjà senti lebih berfokus pada pengalaman emosional atau perasaan batin. Seseorang dapat tiba-tiba merasakan kesedihan, kebahagiaan, ketenangan, atau kecemasan yang terasa sangat akrab tanpa mengetahui sumbernya.

Para ahli menjelaskan bahwa fenomena ini kemungkinan berkaitan dengan cara otak memproses memori dan emosi. Ketika seseorang mengalami situasi yang memiliki kemiripan dengan pengalaman masa lalu, otak dapat memunculkan kembali sensasi emosional tertentu tanpa menghadirkan ingatan lengkap tentang peristiwa yang menyebabkannya. Akibatnya, seseorang merasa pernah merasakan emosi yang sama sebelumnya, tetapi tidak mampu menghubungkannya dengan kenangan tertentu.

Sebagai contoh, seseorang mungkin mendengar lagu, mencium aroma tertentu, atau melihat suasana tertentu yang memunculkan perasaan hangat dan akrab. Namun, ia tidak dapat mengingat kapan perasaan tersebut pernah dialami. Sensasi inilah yang sering dikaitkan dengan déjà senti.

Dalam kajian psikologi, fenomena déjà termasuk dalam kelompok paramnesia, yaitu gangguan atau ilusi memori yang membuat seseorang mengalami rasa familiar yang tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun terdengar aneh, pengalaman seperti ini umumnya dianggap normal dan dapat terjadi pada orang sehat.

Para peneliti masih terus mempelajari berbagai bentuk pengalaman déjà, termasuk déjà senti. Hingga kini, sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan mekanisme memori, emosi, dan pengenalan pola di dalam otak, bukan dengan kemampuan supranatural atau peristiwa mistis.

Meski tidak sepopuler déjà vu, déjà senti menunjukkan bahwa otak manusia mampu menyimpan dan memunculkan kembali jejak-jejak emosional secara kompleks. Fenomena ini menjadi salah satu contoh bagaimana memori dan perasaan dapat saling terhubung, bahkan ketika sumber ingatannya tidak lagi dapat disadari secara penuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....