Sering Menyimpan Dendam? Ini Dampaknya bagi Tekanan Darah Menurut Sains dan Islam
- 13 Jul 2026 08:14 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep : Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, banyak orang tanpa sadar menyimpan amarah, kekecewaan atau dendam yang berlangsung bertahun-tahun. Perasaan tersebut sering dianggap sebagai persoalan emosional semata, padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa emosi negatif yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk meningkatkan tekanan darah. Sebaliknya, memaafkan mulai dipandang sebagai salah satu langkah sederhana yang mampu membantu menjaga kesehatan tubuh sekaligus menenangkan jiwa.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa saat seseorang terus-menerus diliputi kemarahan atau kebencian, tubuh akan berada dalam kondisi siaga. Otak memicu pelepasan hormon stres, seperti adrenalin dan kortisol, yang menyebabkan denyut jantung meningkat serta pembuluh darah menyempit. Jika kondisi ini berlangsung lama, tekanan darah dapat terus berada di atas normal dan meningkatkan risiko penyakit jantung maupun stroke.
Berbeda halnya ketika seseorang mampu melepaskan rasa dendam dan memilih memaafkan. Tubuh cenderung menjadi lebih rileks sehingga respons stres berkurang. Beberapa penelitian di bidang psikologi kesehatan menemukan bahwa individu yang memiliki sikap pemaaf umumnya menunjukkan tekanan darah yang lebih stabil, denyut jantung yang lebih tenang, serta kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan mereka yang terus memendam kemarahan.
Meski demikian, para tenaga medis mengingatkan bahwa memaafkan bukanlah obat untuk hipertensi. Tekanan darah tinggi tetap harus dikendalikan melalui pola makan bergizi seimbang, pembatasan konsumsi garam, aktivitas fisik secara teratur, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, serta mematuhi pengobatan sesuai anjuran dokter. Memaafkan lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pengelolaan stres yang dapat mendukung kesehatan secara menyeluruh.
Penyuluh Agama Islam Kemenag Sumenep, Ustaz Abd Mufid mengatakan bahwa memaafkan memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah Swt. Menurutnya memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 134 menyebutkan bahwa orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan termasuk golongan yang dicintai Allah. "Sementara itu, Surah Asy-Syura ayat 40 menjelaskan bahwa siapa pun yang memaafkan dan berbuat baik akan memperoleh pahala dari Allah SWT" ucapnya saat berdialog di Mutiara Pagi Pro 1 RRI Sumenep, Senin 13 Juli 2026
Rasulullah saw. juga memberikan teladan luar biasa tentang pentingnya memaafkan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa Allah tidak akan menambah seorang hamba yang suka memaafkan selain kemuliaan. Ajaran tersebut menunjukkan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kekuatan dalam mengendalikan diri dan membersihkan hati dari kebencian.
Namun, Islam juga memberikan pemahaman yang seimbang. Memaafkan tidak berarti membiarkan kezaliman terus terjadi atau mengabaikan keadilan. Seseorang tetap berhak memperjuangkan haknya melalui cara yang benar. Akan tetapi, apabila ia memilih memaafkan dengan ikhlas demi mengharap ridha Allah dan terciptanya perdamaian, sikap tersebut memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi.
Dari sudut pandang ilmu pengetahuan maupun ajaran Islam, memaafkan membawa manfaat yang saling melengkapi. Secara medis, sikap pemaaf membantu mengurangi beban stres yang berdampak positif terhadap kesehatan jantung dan tekanan darah. Sementara secara spiritual, memaafkan menjadi jalan untuk membersihkan hati, mempererat hubungan antarsesama, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan hati yang lebih lapang, seseorang tidak hanya memperoleh ketenangan batin, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk menjalani hidup yang sehat dan berkualitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....