Psikolog Ingatkan Orang Tua Terapkan Aturan Gawai Secara Konsisten sejak Dini
- 08 Jul 2026 08:59 WIB
- Malang
RRI.CO.ID., MALANG - Penggunaan gawai di kalangan anak-anak kini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi banyak keluarga. Kemajuan teknologi membuat anak semakin mudah mengakses berbagai perangkat digital, baik untuk belajar maupun hiburan. Namun, tanpa pengawasan dan aturan yang tepat, penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi perkembangan sosial, emosional, hingga kemampuan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Psikolog Imelda Prista Liona, M.Psi. dalam program Obrolan Psikologi yang disiarkan RRI Malang. Menurutnya, pembatasan penggunaan gawai tidak cukup hanya dengan melarang anak bermain, tetapi harus dibarengi dengan aturan yang jelas, disampaikan sejak awal, dan diterapkan secara konsisten oleh seluruh anggota keluarga.
Imelda menjelaskan bahwa orang tua perlu menetapkan durasi penggunaan gawai sesuai usia anak, kemudian mengomunikasikan aturan tersebut dengan cara yang mudah dipahami. Orang tua juga dianjurkan untuk mengingatkan anak ketika waktu penggunaan gawai hampir berakhir agar anak memiliki kesempatan mempersiapkan diri dan belajar menghargai kesepakatan yang telah dibuat.
"Anak akan lebih mudah menerima aturan ketika mereka memahami batasan yang telah disepakati sejak awal. Konsistensi dari orang tua menjadi kunci agar anak belajar disiplin dan bertanggung jawab," jelasnya kepada RRI, Selasa (7/7/2026)
Selain menetapkan aturan, Imelda menekankan pentingnya peran orang tua sebagai teladan. Menurutnya, anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari. Apabila orang tua terlalu sering menggunakan ponsel di hadapan anak, maka anak akan menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan cenderung menirunya.
Sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap gawai, orang tua disarankan menyediakan berbagai aktivitas alternatif yang menyenangkan. Kegiatan seperti memasak bersama, bersepeda, bermain olahraga, membaca buku, menggambar, atau permainan edukatif dapat menjadi pilihan untuk mempererat hubungan keluarga sekaligus mengembangkan kemampuan motorik, kreativitas, dan keterampilan sosial anak.
Selain membahas penggunaan gawai, Imelda juga menyoroti pentingnya kesepakatan pola asuh di dalam keluarga besar. Ia menjelaskan bahwa perbedaan aturan antara orang tua dengan kakek, nenek, atau anggota keluarga lain sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka. Dengan demikian, anak akan menerima aturan yang sama dan tidak merasa bingung karena mendapatkan perlakuan yang berbeda dari setiap anggota keluarga.
Menurut Imelda, konsistensi dalam menerapkan aturan akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, serta mampu memahami tanggung jawab sejak usia dini. Sebaliknya, pola asuh yang tidak konsisten berpotensi membuat anak kesulitan memahami batasan, ragu dalam mengambil keputusan, dan kehilangan arah dalam bersikap. Oleh karena itu, kerja sama seluruh anggota keluarga menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....