Pahami Perilaku Menantang Anak Autisme
- 08 Jul 2026 09:55 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Perilaku menantang merupakan salah satu karakteristik yang dapat muncul pada anak spektrum autisme dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari bersama. Perilaku tersebut dapat berupa melukai diri sendiri, merusak lingkungan, maupun mengganggu proses pembelajaran sehingga membutuhkan penanganan secara tepat bersama.
“Perilaku menantang tidak pernah muncul secara tiba-tiba tanpa adanya penyebab yang mendasari setiap tindakan anak dalam kondisi tertentu sebelumnya. Memahami perilaku anak memerlukan proses pengamatan secara menyeluruh terhadap situasi yang terjadi sebelum, saat, maupun setelah perilaku tersebut muncul. Pendekatan ini membantu menemukan pola yang menjadi dasar munculnya perilaku sehingga penanganan dilakukan berdasarkan kondisi sebenarnya yang dialami anak,” kata Sri Retno Yullani, M.psi, psikolog - Kepala SLB Autisme River Kids, Minggu (05/07/2026).
Orang tua maupun tenaga profesional dianjurkan menjadi pengamat yang cermat dalam mengenali berbagai faktor penyebab munculnya perilaku menantang pada anak. Kemampuan mengamati secara objektif menjadi langkah awal untuk menentukan strategi pendampingan yang lebih efektif sesuai kebutuhan perkembangan anak masing-masing.
“Anak dengan spektrum autisme sering mengalami kesulitan menyampaikan keinginan maupun ketidaknyamanan melalui komunikasi yang dipahami lingkungan sekitarnya secara optimal. Kesulitan tersebut dapat memunculkan perilaku menantang sebagai bentuk penyampaian pesan ketika cara komunikasi lain belum berhasil dilakukan secara efektif,” imbuhnya.
Lingkungan yang kurang memahami kebutuhan anak juga berpotensi memperbesar munculnya perilaku menantang karena terjadi kesalahpahaman dalam proses komunikasi bersama. Ketika kebutuhan anak tidak dipahami, perilaku tertentu dapat menjadi satu-satunya cara untuk memperoleh respons dari lingkungan sekitarnya secara cepat.
“Pendekatan yang mengutamakan pemahaman penyebab perilaku jauh lebih efektif dibandingkan memberikan hukuman tanpa mengetahui akar permasalahan yang sebenarnya terjadi. Hal ini membantu anak memperoleh dukungan sekaligus mengurangi kemungkinan perilaku serupa muncul kembali pada kesempatan berikutnya nanti. Kolaborasi keluarga, guru, terapis, serta tenaga profesional sangat diperlukan untuk memahami perilaku anak secara menyeluruh dan berkesinambungan. Dari sini akan menghasilkan strategi pendampingan yang konsisten sehingga perkembangan kemampuan anak dapat berlangsung lebih optimal dalam berbagai lingkungan,” pesannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....