FK UB Kembangkan Program HARMONI, Perkuat Deteksi Dini Depresi Postpartum

  • 06 Jul 2026 13:56 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kesadaran terhadap kesehatan mental ibu setelah melahirkan masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Padahal, depresi postpartum yang tidak terdeteksi dapat berdampak pada kesehatan ibu, tumbuh kembang anak, hingga keharmonisan keluarga. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) mengembangkan Program HARMONI (Holistic Approach for Resilience in Maternal) di Desa Kemulan, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Program ini membangun sistem deteksi dini dan pencegahan depresi postpartum berbasis masyarakat melalui pemberdayaan kader kesehatan, edukasi bagi ibu nifas dan keluarga, skrining menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS), hingga intervensi yoga postpartum.

Inovasi tersebut berhasil menjadi salah satu dari dua proposal terbaik dalam SANF Sustainability Squad 2026, program pengembangan masyarakat yang diselenggarakan PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF). Dari lebih dari 50 proposal mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Program HARMONI terpilih memperoleh pendanaan untuk diimplementasikan secara langsung di masyarakat.

Ketua tim, Shafira Alyaa Kamilah mengatakan, program ini lahir setelah tim menemukan bahwa layanan kesehatan ibu nifas selama ini masih lebih banyak berfokus pada kondisi fisik ibu dan bayi, sementara aspek kesehatan mental belum menjadi perhatian utama.

"Kesehatan mental ibu nifas masih sering terabaikan. Melalui Program HARMONI, kami ingin membangun sistem deteksi dini yang berkelanjutan melalui pemberdayaan kader kesehatan serta keterlibatan keluarga sebagai sistem pendukung utama ibu," ungkapnya, Senin (6/7/2026).

Sebelum pelaksanaan program pada Mei hingga Juni 2026, tim melakukan observasi, wawancara, dan analisis kondisi di Desa Kemulan. Hasilnya menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai depresi postpartum, belum adanya skrining rutin menggunakan EPDS, terbatasnya kemampuan kader kesehatan dalam mendeteksi risiko, serta belum tersedianya media edukasi mengenai kesehatan mental ibu nifas.

Untuk menjawab persoalan tersebut, delapan mahasiswa lintas disiplin dari Program Studi Pendidikan Dokter dan Kebidanan FK UB, didampingi dosen pembimbing, melaksanakan serangkaian kegiatan mulai dari seminar kesehatan mental postpartum, pelatihan penggunaan EPDS bagi kader kesehatan, penyusunan modul edukasi, pengembangan Website HARMONI sebagai media edukasi dan skrining mandiri, pelaksanaan yoga postpartum, hingga revitalisasi Spot HARMONI sebagai pusat edukasi dan pendampingan ibu nifas di desa.

Program ini melibatkan 82 penerima manfaat yang terdiri atas 24 ibu nifas, 34 kader kesehatan, dan 24 anggota keluarga.

"Hasil implementasi menunjukkan peningkatan kapasitas kader kesehatan dengan kenaikan pengetahuan sebesar 32,34 persen. Seluruh ibu nifas peserta memperoleh nilai post-test maksimal, sementara kader mampu melakukan skrining menggunakan EPDS secara mandiri dengan tingkat akurasi mencapai 98 persen," ujar Shafira.

"Seluruh peserta juga menyatakan puas terhadap pelaksanaan program dan menilai edukasi maupun yoga postpartum memberikan manfaat bagi kesehatan mental ibu setelah melahirkan," imbuhnya.

Untuk menjaga keberlanjutan program, tim telah menyusun mekanisme monitoring melalui skrining EPDS rutin di Posyandu, pendampingan kader melalui kunjungan rumah, konseling bagi ibu berisiko oleh bidan desa, serta evaluasi berkala. Program turut diperkuat melalui Website HARMONI, video edukasi yoga postpartum, serta kolaborasi bersama pemerintah desa, bidan, dan kader kesehatan.

"Ke depan, Program HARMONI diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam layanan rutin Posyandu dan Puskesmas Turen, sekaligus direplikasi di desa-desa lain sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan mental ibu nifas secara berkelanjutan," katanya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....