Waspada, Perut Buncit Picu Risiko Diabetes Melitus

  • 19 Jun 2026 16:28 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Kegemukan atau obesitas memiliki keterkaitan erat dengan meningkatnya risiko diabetes mellitus. Kondisi ini terjadi akibat penumpukan lemak tubuh, terutama di area perut, yang dapat mengganggu kerja insulin dalam mengatur kadar gula darah.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, dalam talkshow kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Ia menjelaskan bahwa ukuran tubuh tidak hanya dilihat dari berat badan dan tinggi badan, tetapi juga dari lingkar perut yang menjadi indikator penting risiko penyakit metabolik.

Menurutnya, lingkar perut yang melebihi batas normal sudah menjadi tanda awal risiko gangguan metabolik.

“Kalau lingkar perut laki-laki di atas 90 sentimeter dan perempuan di atas 80 sentimeter, itu sudah masuk kategori berisiko,” ujar Prof. Yunir.

Ia menjelaskan, penumpukan lemak di perut dapat memicu resistensi insulin, yakni kondisi ketika tubuh membutuhkan insulin lebih banyak untuk mengolah gula darah.

“Semakin banyak lemak di tubuh, terutama di perut, semakin tinggi resistensi insulin,akibatnya, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mengendalikan gula darah,” katanya.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, fungsi pankreas yang memproduksi insulin dapat menurun sehingga berujung pada diabetes.

Prof. Yunir juga menyoroti meningkatnya kasus obesitas di Indonesia yang sejalan dengan kenaikan kasus diabetes dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan gaya hidup, pola makan tinggi kalori, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang mempercepat risiko tersebut.

“Kalau pemasukan kalori lebih besar dari kebutuhan, sisanya akan disimpan menjadi lemak, kalau ini berlangsung lama, akan muncul resistensi insulin dan akhirnya berisiko diabetes,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa diabetes sering kali tidak disadari sejak awal karena minim gejala, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sudah terjadi komplikasi. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala menjadi penting, termasuk pemeriksaan gula darah puasa maupun HbA1c yang menggambarkan rata-rata gula darah beberapa bulan terakhir.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Dengan meningkatnya risiko tersebut, ia mengimbau masyarakat untuk mulai menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, dan melakukan deteksi dini agar diabetes dapat dicegah sejak awal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....