FKH UB Perkuat Sinergi Pengawasan Hewan Kurban untuk Cegah Penularan Penyakit
- 26 Mei 2026 08:37 WIB
- Malang
FKH UB Perkuat Sinergi Pengawasan Hewan Kurban untuk Cegah Penularan Penyakit
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) terus memperkuat pengawasan kesehatan hewan kurban menjelang Iduladha 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang beredar di masyarakat aman, sehat, dan bebas dari penyakit menular.
Dekan FKH UB, drh. Dyah Ayu Oktavianie AP., M.Biotech., AP.Vet., mengatakan secara umum pelaksanaan pemeriksaan hewan kurban dari tahun ke tahun berjalan relatif aman. Menurutnya, hingga saat ini risiko penularan penyakit hewan kurban masih dapat dikendalikan melalui koordinasi intensif dengan dinas terkait.
“Dari tahun ke tahun relatif aman. Insya Allah juga tidak ada risiko-risiko berkaitan dengan penularan penyakit hewan karena kami selalu berkoordinasi dengan dinas sebagai pejabat otoritas veteriner setempat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengalaman saat terjadi outbreak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak dalam memperkuat sistem pengawasan kesehatan hewan kurban.
Menurut Dyah, FKH UB tidak hanya berupaya memastikan hewan kurban layak disembelih, tetapi juga mencegah munculnya potensi penyebaran penyakit antarwilayah.
“Kami berusaha mengamankan agar bukan hanya hewan kurbannya yang aman, tetapi juga bagaimana supaya tidak sampai menimbulkan penularan dari wilayah-wilayah tertentu,” katanya.
Untuk mendukung pengawasan yang lebih optimal, FKH UB mendorong adanya sistem terintegrasi antara perguruan tinggi dan instansi pemerintah, khususnya dinas peternakan dan kesehatan hewan. Sistem tersebut diharapkan mampu mendukung pelaporan dan rekapitulasi data pemeriksaan hewan kurban secara lebih terstruktur.
Menurutnya, data pemeriksaan tersebut nantinya dapat menjadi arsip penting yang digunakan pemerintah dalam menentukan kebijakan kesehatan hewan kurban di masa mendatang.
“Kami berharap ada sinergi dalam suatu sistem yang terintegrasi antara perguruan tinggi dengan instansi pemerintah, khususnya untuk pelaporan dan rekap data pemeriksaan kurban,” jelasnya.
Meski kondisi saat ini dinilai relatif terkendali, Dyah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan terkait penyakit hewan menular seperti PMK dan Lumpy Skin Disease (LSD) di beberapa wilayah.
Ia menyebut, berdasarkan koordinasi dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, masih terdapat sejumlah daerah yang masuk kategori zona merah karena kasus PMK yang belum sepenuhnya tuntas.
“Kita masih punya beberapa PR terkait PMK dan LSD. Beberapa wilayah memang masih menjadi perhatian karena kasusnya belum sepenuhnya selesai,” ujarnya.
Namun demikian, ia memastikan pemerintah daerah bersama berbagai pihak telah menjalankan sejumlah program pengendalian dan pencegahan penyakit secara aktif, termasuk melibatkan perguruan tinggi.
Program tersebut meliputi vaksinasi hewan ternak, pemeriksaan kesehatan rutin, hingga edukasi kepada masyarakat terkait kesehatan hewan kurban.
“Dinas sudah memiliki program pengendalian dan pencegahan, termasuk vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan rutin yang juga melibatkan perguruan tinggi,” katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, FKH UB optimistis pengawasan kesehatan hewan kurban tahun ini dapat berjalan lebih baik sehingga masyarakat dapat melaksanakan ibadah kurban dengan aman dan nyaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....