Bolehkah Penderita GERD Melakukan Intermittent Fasting?

  • 28 Apr 2026 15:15 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember — Intermittent fasting atau pola makan dengan periode puasa tertentu semakin populer sebagai metode pengaturan berat badan dan kesehatan metabolik. Namun, bagi penderita penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD), penerapan pola ini memerlukan perhatian khusus. GERD merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan gejala seperti rasa terbakar di dada, nyeri ulu hati, hingga gangguan pencernaan. Pola makan yang tidak teratur, termasuk jeda makan yang terlalu lama, berpotensi memengaruhi produksi asam lambung dan memicu kekambuhan gejala.

Pada intermittent fasting, tubuh berada dalam kondisi tanpa asupan makanan dalam jangka waktu tertentu. Pada sebagian penderita GERD, kondisi perut kosong yang berkepanjangan dapat meningkatkan sensitivitas lambung dan memicu rasa tidak nyaman. Namun, respons setiap individu dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan dan tingkat keparahan GERD. Penerapan intermittent fasting masih memungkinkan dilakukan dengan penyesuaian. Pemilihan jenis makanan saat periode makan menjadi faktor penting. Konsumsi makanan rendah lemak, tidak terlalu pedas, serta mudah dicerna dapat membantu mengurangi risiko iritasi lambung. Selain itu, porsi makan sebaiknya tidak berlebihan untuk menghindari tekanan pada lambung.

Waktu makan juga perlu diatur dengan baik. Menghindari makan dalam jumlah besar menjelang waktu tidur dapat membantu mencegah refluks asam. Posisi tubuh setelah makan sebaiknya tetap tegak untuk memberi waktu bagi proses pencernaan sebelum beristirahat. Kebutuhan cairan tetap harus diperhatikan selama menjalani pola intermittent fasting. Asupan air yang cukup membantu menjaga keseimbangan fungsi tubuh serta mendukung proses pencernaan. Dehidrasi dapat memperburuk kondisi lambung pada sebagian individu.

Pemantauan respons tubuh menjadi langkah penting bagi penderita GERD yang mencoba pola ini. Jika muncul gejala seperti nyeri dada, sensasi terbakar, atau mual, pola makan perlu dievaluasi kembali. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dianjurkan untuk memastikan metode yang digunakan sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan pendekatan yang tepat dan terkontrol, intermittent fasting dapat dijalankan oleh sebagian penderita GERD. Namun, perhatian terhadap pola makan, jenis makanan, serta respons tubuh menjadi kunci dalam menjaga kondisi tetap stabil.

Sumber:

World Health Organization

National Institutes of Health

American College of Gastroenterology

Harvard Medical School

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....