Menu Sahur & Berbuka untuk Energi Stabil
- 02 Mar 2026 13:55 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Kunjungan ke IGD akibat keluhan maag dan lonjakan gula darah kerap meningkat pada minggu pertama Ramadan. Menurut dr. Indra Gunawan di kanal youtubenya, penyebab utamanya bukan puasanya, melainkan kesalahan dalam memilih “bahan bakar” saat sahur dan berbuka. Puasa sejatinya dapat menjadi metabolic reset, tetapi manfaat tersebut sering gagal tercapai karena kualitas dan komposisi nutrisi yang kurang tepat.
Ia menegaskan, “Sahur itu bukan sekadar asal kenyang, tapi bekal energi untuk 14 jam ke depan,” jelas dr. Indra. Artinya, fokus sahur seharusnya pada ketahanan energi, bukan sekadar volume makanan.
Berikut strategi nutrisi berbasis fisiologi tubuh agar puasa berjalan lebih stabil dan aman.
1. Strategi Sahur: Utamakan Protein dan Lemak Sehat
Musuh utama saat sahur adalah karbohidrat sederhana seperti roti tawar, mie, atau nasi putih berlebih. Makanan ini ibarat kertas koran cepat terbakar dan apinya besar, namun cepat padam sehingga membuat tubuh lemas pada jam 10 pagi.
Protein & Lemak (Ibarat Kayu Jati): Konsumsi telur, ikan, atau ayam. Protein paling efektif menekan hormon lapar (grelin). Lemak sehat seperti alpukat atau minyak zaitun memperlambat pengosongan lambung sehingga kenyang lebih lama.
2. Strategi Berbuka: Hindari “Sugar Shock”
Kesalahan umum saat berbuka adalah langsung mengonsumsi minuman sangat manis ketika perut kosong. Kondisi ini dapat memicu lonjakan insulin yang tinggi, yang berdampak pada penghambatan hormon pertumbuhan (HGH) dan mendorong penyimpanan lemak, khususnya di area perut.
Urutan yang lebih aman:
Mulai dengan air putih atau air kelapa murni sebagai sumber elektrolit alami .Lanjutkan dengan kurma dalam jumlah wajar. Beri jeda sejenak sebelum makanan utama agar tubuh beradaptasi dan sinyal kenyang mulai terbentuk. Memberi jeda sederhana ini membantu mencegah lonjakan gula darah yang drastis.
3. Food Sequencing: Urutan Makan Menentukan Respons Gula Darah
Jika ingin makan takjil seperti kolak atau gorengan, dr. Indra menyarankan agar menjadikannya makanan penutup (dessert), bukan makanan pembuka saat perut kosong. Pendekatan klinis yang dianjurkan adalah: Konsumsi serat (sayuran) terlebih dahulu, Lanjutkan dengan protein, Terakhir, baru karbohidrat atau makanan manis. Serat membantu memperlambat penyerapan gula dan lemak. Strategi ini dilaporkan mampu mengurangi lonjakan glukosa hingga 30–70%.
4. Suplemen Tambahan (Opsional)
Magnesium. Dapat dikonsumsi malam hari untuk membantu relaksasi otot dan kualitas tidur Probiotik. Membantu sistem pencernaan menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan selama Ramadan.
Puasa dapat memberikan manfaat metabolik yang nyata apabila diiringi dengan kepadatan nutrisi yang baik. Sahur tinggi protein dan lemak sehat membantu menjaga stabilitas energi, sementara pengaturan urutan makan saat berbuka mencegah lonjakan gula darah yang berlebihan. Dengan pendekatan yang tepat, puasa bukan hanya ibadah, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki sistem metabolisme dan mendukung proses regenerasi sel secara alami.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....