Puasa Bentuk Daya Juang dan Empati Anak
- 20 Feb 2026 15:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan bukan sekadar ritual menahan haus dan lapar, melainkan sebuah laboratorium mental yang efektif untuk membentuk karakter anak sejak usia dini. Melalui pendekatan psikologis yang tepat, ibadah puasa dapat menjadi sarana untuk melatih self-control atau kontrol diri pada anak-anak.
Hal ini sangat krusial dalam membantu mereka mengelola keinginan secara sadar dan tidak terburu-buru dalam menuntut sesuatu (delay gratification). Dampak psikologis yang paling nyata adalah peningkatan regulasi emosi, di mana anak belajar untuk menjadi lebih sabar menunggu waktu berbuka.
Proses menunda keinginan makan dan minum ini melatih anak untuk tidak bersikap impulsif dalam mengambil keputusan. Hal itu disampaikan dokter spesialis anak, Wilda Haliza, dalam penjelasannya mengenai manfaat puasa dalam dialog Dokter Etam di Pro 4 RRI Samarinda, Kamis, 19 Februari 2026.
"Secara psikologis, kemampuan ini akan berhubungan dengan regulasi emosi anak akan menjadi lebih baik," ujar Wilda.
Menurutnya, selain kontrol diri, puasa merupakan cara yang sangat efektif untuk memupuk rasa empati dan kepedulian sosial pada anak. Dengan merasakan rasa lapar, anak-anak diajak untuk membayangkan posisi orang-orang yang kurang beruntung di lingkungan sekitar mereka. Orang tua bisa memanfaatkan momen ini untuk mengajak anak berbagi atau memberikan sumbangan, sehingga muncul kesadaran emosional bahwa mereka memiliki tanggung jawab sosial.
Pembentukan disiplin juga menjadi nilai moral yang kuat karena adanya aturan waktu yang kaku dalam berpuasa, seperti waktu Imsak dan Maghrib. Anak belajar menghargai struktur dan manajemen waktu yang telah ditetapkan tanpa bisa ditawar-tawar. Kedisiplinan ini nantinya akan melahirkan rasa tanggung jawab terhadap komitmen yang telah mereka ambil, bahkan dalam hal-hal kecil seperti tidak makan secara sembunyi-sembunyi.
Secara jangka panjang, latihan menahan ketidaknyamanan saat berpuasa akan memperkuat daya juang atau fighting spirit seorang anak. Anak yang terbiasa menghadapi tantangan kecil seperti rasa lapar yang bisa dikelola, akan memiliki ketahanan terhadap stres dan frustasi yang lebih baik di masa depan.
"Mereka tidak akan mudah mengeluh saat menghadapi situasi sulit karena sudah terlatih secara mental sejak masa kanak-kanak melalui rutinitas Ramadan," katanya.
Strategi pemberian reward atau hadiah juga dianggap sah-sah saja oleh para ahli psikologi sebagai stimulus awal bagi anak yang belum baligh. Hadiah tersebut dapat berupa makanan favorit atau aktivitas menyenangkan yang bisa memacu semangat anak untuk menyelesaikan misi puasanya.
"Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, motivasi material ini harus perlahan digantikan dengan pemahaman tentang makna spiritual yang lebih mendalam," ucap Wilda mengingatkan.
Pada akhirnya, ibadah puasa bersama keluarga besar akan memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak melalui komunikasi yang lebih hangat. Momen sahur dan berbuka menjadi waktu berkualitas untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan cerita inspiratif Islami kepada buah hati.
"Jadikan itu suatu momentum, karena satu bulan ini manfaatnya banyak sampai daya juang dia itu akan berpengaruh," kata Wilda menutup sesi edukasi tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....