Profesor FK UB Kembangkan Protein Rekombinan Diagnostik-Vaksin
- 10 Feb 2026 11:46 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. rer.nat. Tri Yudani Mardining Raras, M.App.Sc, memperkenalkan Model Ag38 Protein Rekombinan Fungsi Ganda sebagai pendekatan inovatif dalam pengembangan diagnostik dan vaksin berbasis bioteknologi modern.
Prof. Tri Yudani dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Biokimia Biomolekuler Fakultas Kedokteran UB pada Rabu (11/2/2026) besok.
Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Tri Yudani menjelaskan bahwa protein rekombinan selama ini menjadi tulang punggung inovasi kesehatan global, mulai dari insulin untuk diabetes hingga vaksin pencegah penyakit infeksi. Namun di Indonesia, pengembangan protein rekombinan masih kerap dipandang sebatas kegiatan teknis pendukung riset dan berhenti pada tahap publikasi.
“Paradigma yang melihat protein rekombinan hanya sebagai alat uji hipotesis terlalu sempit. Padahal satu protein berpotensi dikembangkan sebagai platform terintegrasi dengan berbagai luaran,” ujarnya.
Melalui riset yang telah dikembangkan selama lebih dari 16 tahun, Prof. Tri Yudani mengusulkan model protein rekombinan fungsi ganda, yakni protein yang dapat berperan sekaligus sebagai agen serodiagnostik, prototipe vaksin, dan protein terapeutik. Model ini menggunakan Ag38 dari Mycobacterium tuberculosis sebagai protein rujukan.
Menurutnya, konsep protein rekombinan fungsi ganda memiliki keunggulan dari sisi efisiensi waktu dan biaya. Dengan karakterisasi yang komprehensif, satu protein dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi sekaligus, serta mengurangi variabel perancu dalam penelitian.
“Model ini juga fleksibel. Jika satu konstruksi protein tidak bekerja optimal, dapat segera dimodifikasi melalui perubahan epitop atau komponen proteinnya secara independen,” jelasnya.
Dalam pengembangan diagnostik, protein Ag38 telah diuji sebagai agen serodiagnostik untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis melalui sampel saliva, tanpa perlu proses kultur. Penelitian ini telah dikembangkan hingga tahap pembuatan rapid diagnostic kit, bekerja sama dengan industri bioteknologi dalam negeri.
Sementara itu, sebagai kandidat vaksin, protein rekombinan Ag38 terbukti mampu menginduksi respons imun dengan mengaktivasi sel imun dan menstimulasi ekspresi sitokin yang berperan penting dalam perlindungan terhadap patogen.
Ke depan, model protein rekombinan fungsi ganda ini juga mulai diterapkan pada pengembangan prototipe vaksin pneumonia, dengan memanfaatkan pola pengembangan yang telah berhasil pada penelitian tuberkulosis.
“Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian riset biomedis nasional sekaligus mempercepat lahirnya inovasi diagnostik dan vaksin yang aplikatif,” pungkasnya.
Prof. Tri Yudani dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Biokimia Biomolekuler Fakultas Kedokteran UB pada Rabu (11/2/2026) besok.
Ia tercatat sebagai Profesor aktif ke-8 di FK, ke-259 di Universitas Brawijaya, serta Profesor ke-451 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.
Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Tri Yudani menjelaskan bahwa protein rekombinan selama ini menjadi tulang punggung inovasi kesehatan global, mulai dari insulin untuk diabetes hingga vaksin pencegah penyakit infeksi. Namun di Indonesia, pengembangan protein rekombinan masih kerap dipandang sebatas kegiatan teknis pendukung riset dan berhenti pada tahap publikasi.
“Paradigma yang melihat protein rekombinan hanya sebagai alat uji hipotesis terlalu sempit. Padahal satu protein berpotensi dikembangkan sebagai platform terintegrasi dengan berbagai luaran,” ujarnya.
Melalui riset yang telah dikembangkan selama lebih dari 16 tahun, Prof. Tri Yudani mengusulkan model protein rekombinan fungsi ganda, yakni protein yang dapat berperan sekaligus sebagai agen serodiagnostik, prototipe vaksin, dan protein terapeutik. Model ini menggunakan Ag38 dari Mycobacterium tuberculosis sebagai protein rujukan.
Menurutnya, konsep protein rekombinan fungsi ganda memiliki keunggulan dari sisi efisiensi waktu dan biaya. Dengan karakterisasi yang komprehensif, satu protein dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi sekaligus, serta mengurangi variabel perancu dalam penelitian.
“Model ini juga fleksibel. Jika satu konstruksi protein tidak bekerja optimal, dapat segera dimodifikasi melalui perubahan epitop atau komponen proteinnya secara independen,” jelasnya.
Dalam pengembangan diagnostik, protein Ag38 telah diuji sebagai agen serodiagnostik untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis melalui sampel saliva, tanpa perlu proses kultur. Penelitian ini telah dikembangkan hingga tahap pembuatan rapid diagnostic kit, bekerja sama dengan industri bioteknologi dalam negeri.
Sementara itu, sebagai kandidat vaksin, protein rekombinan Ag38 terbukti mampu menginduksi respons imun dengan mengaktivasi sel imun dan menstimulasi ekspresi sitokin yang berperan penting dalam perlindungan terhadap patogen.
“Namun konsep ini juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan standar pembanding protein rekombinan (gold standard), risiko misfolding saat ekspresi protein berlebih, serta kompleksitas validasi klinis akibat keberagaman pasien,” ungkapnya.
Ke depan, model protein rekombinan fungsi ganda ini juga mulai diterapkan pada pengembangan prototipe vaksin pneumonia, dengan memanfaatkan pola pengembangan yang telah berhasil pada penelitian tuberkulosis.
“Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian riset biomedis nasional sekaligus mempercepat lahirnya inovasi diagnostik dan vaksin yang aplikatif,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....