Model HOPE-ID, Paradigma Baru Prognosis Penyakit Infeksi

  • 10 Feb 2026 11:36 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Penyakit infeksi hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di tingkat global, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. 

Menjawab tantangan tersebut, Prof. Dr. dr. Agustin Iskandar, MKes, Sp.PK (K) memperkenalkan Model HOPE-ID (Host-Oriented Prognostic Evaluation in Infectious Diseases) sebagai paradigma baru pendekatan prognostik penyakit infeksi berbasis respons inang.
Prof. Agustin dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Ilmu Patologi Klinik/Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) pada Rabu (11/2/2026) besok.

Ia tercatat sebagai Profesor aktif ke-9 di FK, ke-260 di UB, serta Profesor ke-452 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan Universitas Brawijaya. 

Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Agustin menjelaskan bahwa perkembangan Patologi Klinik saat ini telah menghasilkan berbagai metode diagnostik dan biomarker yang semakin sensitif dan spesifik, seperti biomarker inflamasi, biomarker disfungsi endotel, serta teknik molekuler berbasis PCR. Meski demikian, kemajuan diagnostik tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kemampuan memprediksi perjalanan penyakit dan luaran klinis pasien.

“Dalam praktik, pasien dengan diagnosis infeksi yang sama bisa memiliki luaran klinis yang sangat berbeda. Ada yang cepat membaik, tetapi ada pula yang memburuk hingga mengalami syok, kegagalan organ, bahkan kematian,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyakit infeksi tidak semata ditentukan oleh keberadaan patogen, melainkan hasil interaksi kompleks antara patogen, respons biologis inang, serta faktor lingkungan. Oleh karena itu, Patologi Klinik dinilai memiliki peran strategis tidak hanya dalam menegakkan diagnosis, tetapi juga dalam penilaian risiko dan prediksi luaran klinis. 

Model HOPE-ID diperkenalkan sebagai kerangka evaluasi prognostik multidimensional yang mengintegrasikan biomarker inflamasi, biomarker endotel, parameter molekuler, serta faktor klinis kontekstual. Model ini berorientasi pada respons inang (host-oriented), sehingga mampu memberikan gambaran risiko klinis yang lebih presisi.

“Kekuatan HOPE-ID terletak pada pendekatan multidimensional dan potensinya untuk dikembangkan melalui integrasi dengan kecerdasan artifisial guna mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih cepat dan tepat,” jelasnya.

Prof. Agustin mengungkapkan bahwa konsep ini telah mulai dikembangkan sejak masa pandemi COVID-19 dalam bentuk aplikasi digital. Meski pandemi telah mereda, pengembangan model tersebut terus berlanjut dan saat ini mulai diaplikasikan pada penyakit infeksi lain, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).

Ke depan, aplikasi berbasis HOPE-ID diharapkan dapat diakses masyarakat luas melalui platform digital, sehingga pasien dapat melakukan self-assessment secara mandiri. Pasien cukup memasukkan data klinis dasar, seperti usia, berat badan, hari demam, serta hasil pemeriksaan laboratorium, untuk mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis.

“Harapannya pasien tidak terlambat datang ke fasilitas kesehatan. Dengan diagnosis dan penanganan lebih dini, prognosis penyakit infeksi tentu akan semakin baik,” ujarnya.

Lebih jauh, Prof. Agustin menekankan bahwa HOPE-ID merupakan bentuk pergeseran paradigma Patologi Klinik, dari sekadar konfirmasi diagnosis menuju prediksi luaran klinis yang lebih bermakna dan presisi. Model ini diharapkan menjadi panduan penting dalam menghadapi penyakit infeksi saat ini maupun potensi wabah di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....