Mencegah Hamil Anggur Dimulai dari “Isi Piring”
- 10 Feb 2026 11:18 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Mola hidatidosa atau yang lebih dikenal sebagai hamil anggur masih menjadi komplikasi kehamilan langka namun berisiko tinggi bagi perempuan di Indonesia. Meski dapat ditangani melalui kuretase dan pemantauan pascaevakuasi, kondisi ini masih kerap terjadi dan dalam sejumlah kasus dapat berkembang menjadi Penyakit Trofoblas Maligna (PTM).
Menjawab tantangan tersebut, Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk, Guru Besar Bidang Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), merancang PERMATA MOLA, sebuah model pencegahan integratif berbasis translasi biomedik.
Prof. Tatit yang dikukuhkan sebagai Profesor aktif ke-7 Fakultas Kedokteran dan ke-450 Universitas Brawijaya pada Rabu (11/2/2026) besok ini menekankan bahwa pencegahan hamil anggur seharusnya dimulai jauh sebelum perempuan memasuki ruang perawatan medis.
“Pencegahan hamil anggur bukan dimulai di rumah sakit, tetapi dari piring perempuan,” tegas Prof. Tatit.
Ia menjelaskan, PERMATA MOLA mengintegrasikan data epidemiologi nasional, karakteristik molekuler trofoblas, regulasi hormonal, serta peran nutrisi maternal pada kelompok risiko tinggi, seperti kehamilan pertama di usia muda dan kehamilan berulang di usia lanjut.
Berdasarkan hasil riset biomolekuler, ditemukan bahwa defisiensi protein, vitamin A, vitamin D, serta antioksidan berperan dalam gangguan regulasi epigenetik jalur hTERT yang memicu proliferasi trofoblas abnormal. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan terbentuknya sel telur yang tidak sempurna, baik berupa empty ovum (sel telur kosong) maupun gangguan zona pelusida yang memungkinkan pembuahan oleh lebih dari satu sperma.
“Pada hamil anggur, kehamilan tidak berkembang menjadi janin. Sel trofoblas justru bersifat hidrofilik, menyerap air, membentuk gelembung-gelembung menyerupai anggur. Inilah yang membuat kondisi ini berbahaya dan berpotensi menjadi ganas,” jelasnya.
Melalui PERMATA MOLA, Prof. Tatit mendorong penguatan nutrisi prakonsepsi dan gaya hidup sehat sebagai determinan biologis utama pencegahan. Protein berperan mencegah terbentuknya sel telur kosong, vitamin A mendukung diferensiasi sel yang sehat, vitamin D melindungi sel dari kerusakan, sementara antioksidan membantu mencegah stres oksidatif.
“Banyak perempuan sebenarnya mampu secara ekonomi, tetapi salah gizi karena kurang pengetahuan. Lemari kos isinya mi instan semua, padahal nutrisi seimbang sangat menentukan,” ujarnya.
Prof. Tatit menegaskan, pencegahan hamil anggur membutuhkan pendekatan lintas sektor, tidak hanya sektor kesehatan. Edukasi perlu melibatkan sekolah, pondok pesantren, KUA, hingga aparat kewilayahan untuk menjangkau generasi muda sejak dini.
“Dokter selama ini seperti penjaga gawang, menunggu serangan di rumah sakit. Dengan PERMATA MOLA, kami ingin pencegahan dilakukan lebih hulu, agar hamil anggur tidak terbentuk sejak awal,” pungkasnya.
Menjawab tantangan tersebut, Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk, Guru Besar Bidang Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), merancang PERMATA MOLA, sebuah model pencegahan integratif berbasis translasi biomedik.
Prof. Tatit yang dikukuhkan sebagai Profesor aktif ke-7 Fakultas Kedokteran dan ke-450 Universitas Brawijaya pada Rabu (11/2/2026) besok ini menekankan bahwa pencegahan hamil anggur seharusnya dimulai jauh sebelum perempuan memasuki ruang perawatan medis.
“Pencegahan hamil anggur bukan dimulai di rumah sakit, tetapi dari piring perempuan,” tegas Prof. Tatit.
Ia menjelaskan, PERMATA MOLA mengintegrasikan data epidemiologi nasional, karakteristik molekuler trofoblas, regulasi hormonal, serta peran nutrisi maternal pada kelompok risiko tinggi, seperti kehamilan pertama di usia muda dan kehamilan berulang di usia lanjut.
Berdasarkan hasil riset biomolekuler, ditemukan bahwa defisiensi protein, vitamin A, vitamin D, serta antioksidan berperan dalam gangguan regulasi epigenetik jalur hTERT yang memicu proliferasi trofoblas abnormal. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan terbentuknya sel telur yang tidak sempurna, baik berupa empty ovum (sel telur kosong) maupun gangguan zona pelusida yang memungkinkan pembuahan oleh lebih dari satu sperma.
“Pada hamil anggur, kehamilan tidak berkembang menjadi janin. Sel trofoblas justru bersifat hidrofilik, menyerap air, membentuk gelembung-gelembung menyerupai anggur. Inilah yang membuat kondisi ini berbahaya dan berpotensi menjadi ganas,” jelasnya.
Melalui PERMATA MOLA, Prof. Tatit mendorong penguatan nutrisi prakonsepsi dan gaya hidup sehat sebagai determinan biologis utama pencegahan. Protein berperan mencegah terbentuknya sel telur kosong, vitamin A mendukung diferensiasi sel yang sehat, vitamin D melindungi sel dari kerusakan, sementara antioksidan membantu mencegah stres oksidatif.
Ia juga menyoroti bahwa obesitas dan pola makan tidak seimbang, termasuk konsumsi makanan instan yang minim nilai gizi, menjadi faktor pemicu yang kerap luput dari perhatian, terutama pada remaja dan perempuan usia reproduksi.
“Banyak perempuan sebenarnya mampu secara ekonomi, tetapi salah gizi karena kurang pengetahuan. Lemari kos isinya mi instan semua, padahal nutrisi seimbang sangat menentukan,” ujarnya.
Prof. Tatit menegaskan, pencegahan hamil anggur membutuhkan pendekatan lintas sektor, tidak hanya sektor kesehatan. Edukasi perlu melibatkan sekolah, pondok pesantren, KUA, hingga aparat kewilayahan untuk menjangkau generasi muda sejak dini.
“Dokter selama ini seperti penjaga gawang, menunggu serangan di rumah sakit. Dengan PERMATA MOLA, kami ingin pencegahan dilakukan lebih hulu, agar hamil anggur tidak terbentuk sejak awal,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....