Waspadai dan Kenali Gejala Virus Nipah
- 05 Feb 2026 09:10 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Meski virus Nipah belum ditemukan di Indonesia, namun masyarakat tetap diminta mewaspadai virus ini. Pasalnya, virus Nipah dikenal sebagai penyakit infeksi emerging dengan tingkat fatalitas tinggi dan dampak serius terhadap kesehatan manusia.
Selain menyerang sistem saraf, virus Nipah juga dapat menimbulkan peradangan hebat pada paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gagal napas akut yang berujung pada meningkatnya risiko kematian pasien.
Virus Nipah dapat menyerang berbagai kelompok usia, namun risiko lebih tinggi terjadi pada kelompok rentan yakni lansia, anak-anak, serta individu dengan kondisi imunitas rendah.
“Pasien dengan demam diberikan obat penurun panas, pasien dengan sesak napas diberikan oksigen. Jika terdapat kecurigaan virus Nipah, pasien harus dirawat di ruang isolasi dan dipisahkan dari pasien lain,” jelasnya.
Selain itu, tenaga medis diwajibkan menerapkan protokol pengendalian infeksi secara ketat, mulai dari penggunaan alat pelindung diri, mencuci tangan dengan benar, hingga penerapan standar isolasi yang sesuai.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD menjelaskan bahwa virus Nipah tergolong sangat berbahaya karena mampu menyerang organ-organ vital dalam tubuh manusia.
“Infeksi virus ini dapat menembus sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis. Virus ini dapat berkembang sangat cepat, mulai dari demam tinggi, penurunan kesadaran, hingga pasien mengalami koma,” kata dr. Mila, Kamis (5/2/2026).
Selain menyerang sistem saraf, virus Nipah juga dapat menimbulkan peradangan hebat pada paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gagal napas akut yang berujung pada meningkatnya risiko kematian pasien.
“Kombinasi gangguan pada otak dan paru inilah yang membuat virus Nipah memiliki angka kematian yang relatif tinggi dibandingkan infeksi virus lainnya,” ungkapnya.
Dalam praktik klinis sehari-hari, dr. Milanitalia mengungkapkan tantangan utama dalam mendeteksi virus Nipah adalah kemiripan gejala awalnya dengan penyakit infeksi lain.
Dalam praktik klinis sehari-hari, dr. Milanitalia mengungkapkan tantangan utama dalam mendeteksi virus Nipah adalah kemiripan gejala awalnya dengan penyakit infeksi lain.
“Oleh karena itu, dokter perlu memiliki kewaspadaan tinggi terhadap tanda-tanda klinis tertentu,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan tentang gejala yang perlu menjadi alarm. Diantaranya demam tinggi yang tidak membaik, sesak napas, penurunan kesadaran, serta kejang.
“Perubahan kondisi yang cepat harus segera dicurigai sebagai infeksi yang lebih serius,” ujarnya.
Virus Nipah dapat menyerang berbagai kelompok usia, namun risiko lebih tinggi terjadi pada kelompok rentan yakni lansia, anak-anak, serta individu dengan kondisi imunitas rendah.
“Apabila kelompok tersebut terinfeksi, dampak klinis yang muncul dapat lebih berat dan progresif,” ucapnya.
Terkait penanganan pasien, dr. Milanitalia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif dan simptomatik.
Terkait penanganan pasien, dr. Milanitalia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif dan simptomatik.
“Pasien dengan demam diberikan obat penurun panas, pasien dengan sesak napas diberikan oksigen. Jika terdapat kecurigaan virus Nipah, pasien harus dirawat di ruang isolasi dan dipisahkan dari pasien lain,” jelasnya.
Selain itu, tenaga medis diwajibkan menerapkan protokol pengendalian infeksi secara ketat, mulai dari penggunaan alat pelindung diri, mencuci tangan dengan benar, hingga penerapan standar isolasi yang sesuai.
Terkait wacana karantina dan pembatasan mobilitas, dr. Milanitalia menyampaikan bahwa langkah skrining harus diperkuat, khususnya pada individu dengan risiko tinggi. Ia menilai pengalaman pandemi Covid-19 memberikan pelajaran penting tentang pentingnya deteksi dini.
“Skrining di bandara dan terminal harus dilakukan secara ketat agar virus yang belum ada di Indonesia tidak masuk melalui perjalanan internasional,” tegasnya.
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, menurutnya, berperan aktif melalui kegiatan sosialisasi, seminar, serta edukasi kesehatan kepada masyarakat. Upaya edukasi tersebut ditujukan agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar terkait virus Nipah dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.
“Waspada bukan berarti takut berlebihan. Masyarakat cukup menerapkan protokol kesehatan, menggunakan masker di area berisiko, rajin mencuci tangan, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala,” pungkasnya.
“Waspada bukan berarti takut berlebihan. Masyarakat cukup menerapkan protokol kesehatan, menggunakan masker di area berisiko, rajin mencuci tangan, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....