Benarkah AI membutuhkan Air Bersih dunia? Ini alasannya
- 14 Jul 2026 14:58 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Pernah curhat panjang lebar ke ChatGPT atau AI lainnya soal masalah harian? Ternyata, di balik obrolan yang terasa "gratis" itu, ada harga yang dibayar mahal oleh bumi. Berdasarkan temuan peneliti dari University of California, Riverside, setiap kali kita mengetik pertanyaan ke mesin AI, di sisi lain dunia ada pusat data (data center) yang bekerja keras dan membutuhkan air bersih dalam jumlah sangat besar.
Industri teknologi saat ini menjadi sorotan global karena konsumsi air yang sangat tinggi untuk menjaga operasional pusat data agar tetap stabil. Lantas mengapa mesin AI membutuhkan air bersih?Jawabannya adalah bahwa karena server AI bekerja dengan kecepatan yang ekstrem yang menghasilkan panas sangat tinggi. Jika suhu tidak segera diturunkan, komponen server akan rusak permanen.
Menurut laporan EESI dalam "Data Centers and Water Consumption", air bersih menjadi kebutuhan utama karena sistem pendingin AI, khususnya sistem evaporative cooling, membutuhkan air dengan tingkat kemurnian tinggi agar sistem mesin tidak cepat rusak.
Dilansir dari Axis Intelligence, pusat data berskala besar dapat menyerap hingga 19 juta liter air setiap harinya. Bahkan, setiap interaksi atau pertanyaan singkat yang kita ajukan ke mesin AI diperkirakan memakan sekitar 0,2 hingga 0,5 mililiter air. Selanjutnya akan muncul pertanyaan berikutnya seperti mengapa tidak menggunakan air sungai, keran, atau air hujan?
Meski demikian selain alasan kemurnian, penggunaan air alternatif seperti air sungai, keran, atau air hujan secara langsung memiliki hambatan teknis. Berdasarkan informasi dari zPlatform.ai, air alami mengandung mikroorganisme seperti lumut dan bakteri yang dapat menyumbat saluran pendingin. Sementara itu, penggunaan air keran dalam skala jutaan liter per hari dianggap sebagai pemborosan ekonomi.
Selain itu, ada risiko "polusi termal," di mana air yang telah panas setelah mendinginkan server, jika dibuang kembali ke ekosistem alami, akan merusak suhu air sungai dan mematikan biota lokal. Para ahli menyarankan agar perusahaan teknologi beralih ke sistem pendinginan tertutup (closed-loop cooling) atau memanfaatkan air limbah yang telah diolah, guna mengurangi ketergantungan pada air bersih.
"Gunakan AI dengan bijak: Optimalkan untuk produktivitas, bukan sekadar untuk obrolan ringan."muncul sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Maka dari itu mulai sekarang kita harus lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi,menggunakannya hanya untuk kebutuhan yang esensial dan produktif sebagai langkah kecil dalam menjaga kelestarian sumber daya air bagi masa depan.
(Sumber: Rahma Auliya _STID Al-Biruni)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....