Tak Hanya Sekadar Suhu, Waspadai Pula Heat Index
- 15 Jun 2026 08:54 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Gelombang panas ekstrem kini bukan lagi sekadar fenomena musiman yang mengganggu kenyamanan, melainkan telah bertransformasi menjadi penyebab utama kematian terkait cuaca di Amerika Serikat. Janessa Webb selaku Kepala Meteorolog WCCB Charlotte mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau indeks panas karena sensasi gerah menyengat kerap mengecoh pertahanan tubuh manusia.
Dilansir dari Nationalgeographic.com, Senin 15 Juni 2026, secara medis kombinasi antara kelembapan udara yang tinggi dan suhu ekstrem dapat melumpuhkan sistem produksi keringat alami tubuh untuk mendinginkan diri. Kregg Laundon selaku dokter spesialis darurat dari Southeast Georgia Health System menjelaskan bahwa kegagalan termoregulasi ini memicu dehidrasi parah hingga sengatan panas mematikan (heat stroke).
Fisikawan Robert Steadman sebenarnya telah merancang rumus indeks panas modern ini sejak tahun 1979 yang kemudian diadaptasi secara luas oleh Badan Cuaca Nasional (NWS). Namun, Profesor David Romps dari University of California Berkeley mengungkapkan adanya cacat matematis karena rumus lama tersebut tidak mampu menghitung akurasi suhu di atas batas 88 derajat Fahrenheit (31,1 derajat Celcius).
Riset terbaru dari peneliti posdoktoral Yi-Chuan Lu membuktikan bahwa sistem NWS saat ini kerap meremehkan sensasi panas riil di lapangan hingga selisih 10 sampai 20 derajat Fahrenheit (6,7 – 10,1 derajat Celcius). Sebagai contoh, ketika suhu udara menyentuh 100 derajat dengan kelembapan 65 persen, tubuh manusia sejatinya merasakan sengatan ekstrem setara 153 derajat Fahrenheit (67,2 derajat Celcius).
Merespons pembaruan formula tersebut, juru bicara NWS menyatakan pihaknya tengah mengevaluasi alat prakiraan cuaca dengan memadukan tiga instrumen utama termasuk Wet Bulb Globe Temperature dan HeatRisk. Di sisi lain, Profesor Tarik Benmarhnia dari UC San Diego menilai pembaruan indeks ini tidak akan efektif menyelamatkan nyawa tanpa adanya perubahan perilaku masif di masyarakat.
Benmarhnia menyarankan integrasi data kesehatan dunia nyata ke dalam sistem peringatan dini demi membantu komunitas rentan yang tidak memiliki akses pendingin ruangan. Sementara itu, Dr. Laundon merekomendasikan pola hidrasi ideal berupa konsumsi dua gelas air putih untuk setiap satu porsi minuman elektrolit penyeimbang garam tubuh.
Masyarakat juga diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan pada tengah hari serta mewaspadai konsumsi obat penurun tekanan darah seperti ACE inhibitor dan ibuprofen. Penggunaan obat-obatan tersebut di tengah cuaca panas ekstrem terbukti berisiko menurunkan fungsi ginjal dan memicu penumpukan racun berbahaya di dalam aliran darah.
Gejala awal kelelahan panas biasanya ditandai dengan kram parah, sakit kepala, pusing, hingga muntah berlebih sebelum berkembang menjadi kejang atau kehilangan kesadaran. Jika menemukan korban darurat, segeralah hubungi ambulans sembari mengompres kepala dan ketiak korban menggunakan es batu sebagai pertolongan pertama penurun suhu inti tubuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....