Perpustakaan Bertransformasi Jadi Ruang Publik dan Literasi Digital di NTT
- 13 Jul 2026 23:30 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Perpustakaan kini tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku. Seiring perkembangan teknologi digital, perpustakaan telah bertransformasi menjadi ruang belajar, pusat kreativitas, tempat berkolaborasi, sekaligus penyedia layanan informasi yang membantu masyarakat memperoleh pengetahuan yang akurat dan tepercaya di tengah derasnya arus informasi digital.
Transformasi tersebut juga mengubah peran pustakawan. Jika sebelumnya identik dengan pekerjaan mengelola koleksi buku, kini pustakawan dituntut menguasai teknologi informasi, mengelola perpustakaan digital, menjadi kurator konten, hingga membimbing masyarakat dalam mencari serta memilah informasi yang valid. Perubahan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi masyarakat di era digital.
Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Chrismiljanto P. Rato Pira, S.STP, dalam Wawancara Kupang Pagi di Pro 1 RRI Kupang mengatakan profesi pustakawan telah mengalami transformasi yang signifikan. Menurutnya, selain menjalankan tugas klasik seperti pengadaan, pengolahan koleksi, layanan sirkulasi, dan referensi, pustakawan kini juga mengelola koleksi digital berupa e-book, jurnal elektronik, repositori, hingga memberikan rekomendasi bacaan sesuai kebutuhan masyarakat.
Ia menjelaskan, perpustakaan saat ini telah berkembang menjadi ruang belajar, ruang kreasi, dan ruang komunitas. Berbagai fasilitas disediakan untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia, mulai dari akses internet gratis, komputer, kelas literasi digital, pelatihan keterampilan, bimbingan belajar, bedah buku, pelatihan komunitas, hingga layanan bagi penyandang disabilitas melalui koleksi Braille, audiobook, dan fasilitas pendukung lainnya.
Menurut Kris, perkembangan teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI) bukan menjadi ancaman bagi profesi pustakawan, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas layanan. AI dapat membantu menjawab pertanyaan umum, memberikan ringkasan informasi, hingga mendukung proses pengelolaan koleksi. Namun, peran pustakawan tetap dibutuhkan untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat berasal dari sumber yang benar, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah meningkatnya penyebaran hoaks dan disinformasi melalui media digital. Karena itu, pustakawan berperan memberikan edukasi literasi informasi dengan mengajarkan masyarakat memeriksa sumber informasi, mengecek keakuratan data, serta membedakan informasi yang valid dengan informasi yang menyesatkan.
Selain membuka akses pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT juga terus memperluas kolaborasi dengan komunitas literasi dan masyarakat umum. Kris mengajak masyarakat memanfaatkan berbagai layanan perpustakaan, termasuk perpustakaan digital melalui aplikasi ePerpus, serta menjadikan perpustakaan sebagai ruang bersama untuk belajar, berdiskusi, berkreasi, dan mengembangkan budaya literasi di Nusa Tenggara Timur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....