Mengungkap The Great Red Spot Badai Abadi Planet Jupiter
- 13 Jul 2026 13:51 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari: Dilansir dari Selama ratusan tahun, sebuah pusaran merah raksasa terus berputar di atmosfer Jupiter tanpa pernah benar-benar menghilang. Fenomena yang dikenal sebagai The Great Red Spot (Bintik Merah Besar) ini merupakan badai terbesar di Tata Surya dan telah menjadi salah satu objek paling menarik dalam dunia astronomi. Para ilmuwan masih terus mempelajari asal-usul, warna, dan alasan mengapa badai ini mampu bertahan jauh lebih lama dibandingkan badai di Bumi.
The Great Red Spot adalah badai antisiklon raksasa yang berada di belahan selatan atmosfer Jupiter. Berbeda dengan badai tropis di Bumi yang merupakan sistem bertekanan rendah, badai ini merupakan sistem bertekanan tinggi yang berputar berlawanan arah dengan badai di Bumi karena pengaruh dinamika atmosfer Jupiter.
Saat ini, diameter Great Red Spot diperkirakan sekitar 16.000 kilometer, cukup besar untuk menelan seluruh planet Bumi. Meski ukurannya terus menyusut selama beberapa dekade terakhir, badai ini tetap menjadi badai terbesar yang pernah diketahui di Tata Surya.
Pengamatan terhadap bercak merah di Jupiter telah dilakukan sejak abad ke-17. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa badai yang kita lihat sekarang kemungkinan bukan badai yang sama dengan yang diamati pada tahun 1665. Berdasarkan analisis historis dan simulasi komputer, Great Red Spot modern kemungkinan mulai terbentuk sekitar tahun 1831, sehingga usianya diperkirakan hampir 200 tahun.
Walaupun demikian, usia tersebut tetap menjadikannya badai dengan masa hidup terpanjang yang pernah diketahui di Tata Surya. Di Bumi, badai akan melemah ketika bergerak di atas daratan karena kehilangan sumber energi. Jupiter tidak memiliki permukaan padat seperti Bumi karena sebagian besar tersusun dari hidrogen dan helium dalam bentuk gas serta fluida.
Kondisi tersebut memungkinkan Great Red Spot terus memperoleh energi dari aliran atmosfer Jupiter tanpa terganggu oleh gesekan permukaan. Selain itu, badai ini berada di antara dua arus jet atmosfer yang membantu menjaga kestabilannya selama bertahun-tahun.
Kecepatan angin di Great Red Spot dapat mencapai sekitar 430–650 kilometer per jam (sekitar 270–400 mil per jam), jauh lebih kuat dibandingkan badai paling dahsyat di Bumi. Angin tersebut terus mengaduk awan-awan gas Jupiter dan membentuk pola spiral yang menjadi ciri khas badai ini.
Hingga kini, penyebab pasti warna merah Great Red Spot masih menjadi misteri. Namun, salah satu teori yang paling didukung menyebutkan bahwa sinar Matahari memicu reaksi kimia pada amonia dan senyawa lain di atmosfer bagian atas Jupiter. Reaksi tersebut menghasilkan partikel berwarna kemerahan yang kemudian terperangkap di dalam pusaran badai.
Karena belum ada sampel langsung dari atmosfer Jupiter, penelitian mengenai asal warna merah tersebut masih terus berlangsung, Pengamatan menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble dan wahana Juno menunjukkan bahwa Great Red Spot perlahan mengecil dibandingkan ukurannya pada akhir abad ke-19. Dahulu, badai ini diperkirakan cukup besar untuk memuat tiga planet Bumi. Kini ukurannya tinggal sedikit lebih besar dari satu Bumi.
Meski menyusut, kecepatan angin di bagian tepinya justru mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Para ilmuwan masih berusaha memahami penyebab perubahan tersebut.
The Great Red Spot merupakan salah satu fenomena alam paling spektakuler di Tata Surya. Badai raksasa ini menunjukkan betapa ekstremnya cuaca di Jupiter dibandingkan dengan Bumi.
Walaupun telah diamati selama berabad-abad, para ilmuwan masih berusaha mengungkap misteri mengenai asal-usul, warna merah, serta mekanisme yang membuatnya mampu bertahan begitu lama.
Berkat misi seperti Juno dan pengamatan Teleskop Hubble, setiap tahun kita semakin dekat untuk memahami salah satu badai paling luar biasa yang pernah ada di alam semesta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....