Program MMD, UB Jadikan 76 Desa Jadi Living Laboratory

  • 06 Jul 2026 11:22 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) kembali menggelar program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026. Kali ini, sebanyak 76 desa di delapan kabupaten di Jawa Timur dijadikan living laboratory atau laboratorium lapangan agar program pengabdian tidak berhenti setelah mahasiswa selesai bertugas, melainkan terus berlanjut dan dampaknya dapat diukur dari tahun ke tahun.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo mengatakan, konsep living laboratory menjadi fokus utama MMD karena memungkinkan desa berkembang melalui pendampingan yang berkesinambungan.

"Ini adalah kegiatan rutin yang setiap tahun kita selenggarakan. Tujuan akhirnya adalah membentuk living laboratory di masyarakat sehingga program-program pengabdian dapat berjalan secara kontinu dan kita bisa mengukur dampak dari intervensi yang diberikan," kata Prof. Widodo usai pemberangkatan MMD di halaman rektorat UB, Senin (6/7/2026).

Program MMD 2026 berlangsung selama satu bulan, mulai 6 Juli hingga 6 Agustus 2026,
dengan melibatkan mahasiswa dari seluruh fakultas. Mereka diterjunkan ke desa-desa dampingan yang tersebar di sejumlah wilayah Jawa Timur.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya membawa bantuan berupa teknologi tepat guna, bibit tanaman produktif, dan berbagai sarana pendukung lainnya. Namun juga memberikan pendampingan kepada masyarakat melalui transfer ilmu pengetahuan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

"Yang paling penting bukan sekadar alat atau barang yang diberikan, tetapi bagaimana masyarakat memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan potensi desanya secara mandiri," ujar Prof. Widodo.

Untuk mempermudah proses adaptasi dan pemberdayaan, UB mengupayakan penempatan mahasiswa sesuai daerah asal kabupaten mereka. Meski tidak seluruhnya dapat ditempatkan di desa asal, pendekatan tersebut dinilai membuat mahasiswa lebih memahami karakteristik sosial dan potensi wilayah yang didampingi.

Prof. Widodo menyebut bahwa keberlanjutan menjadi ciri utama MMD UB. Selama empat tahun terakhir, universitas mempertahankan desa-desa dampingan yang sama sehingga perkembangan masyarakat dapat dipantau secara berkesinambungan.

“Pendekatan ini sudah menghasilkan berbagai dampak nyata. Sejumlah desa dampingan di Kabupaten Malang, Bojonegoro, Ngawi, dan Banyuwangi kini memiliki UMKM baru, menerapkan teknologi tepat guna, serta menunjukkan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal,” kata dia.

"Karena lokasinya tidak berpindah-pindah, program ini benar-benar berkelanjutan. Dampaknya sudah terlihat, mulai dari tumbuhnya UMKM hingga penerapan teknologi tepat guna yang terus dimanfaatkan masyarakat," imbuh Widodo.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....