Luncurkan GELITRA, Pemprov NTB Perkuat Literasi lewat Permainan Tradisional

  • 06 Jul 2026 06:51 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pemerintah Provinsi NTB meluncurkan dua program literasi baru (GELITRA dan HIBAH SAKU) pada Kemah Literasi NTB 2026 di Mataram dengan melibatkan 120 relawan literasi dari berbagai daerah.
  • Program GELITRA menghidupkan kembali sedikitnya 170 permainan tradisional seperti palentong, mancana, dan gasing sebagai media pembelajaran untuk memperkuat literasi dan melestarikan budaya lokal.
  • NTB berhasil naik dari peringkat ke-28 menjadi peringkat kedua nasional pada 2025 dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) melalui penguatan literasi berbasis keluarga dan komunitas.

‎RRI.CO.ID, Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meluncurkan dua program baru untuk memperkuat budaya literasi, yakni Gerakan Literasi Tradisional (GELITRA) dan Gerakan Hibah Sejuta Buku (HIBAH SAKU). Peluncuran tersebut dilakukan pada puncak Kemah Literasi NTB 2026 di Kompleks Pramuka Jaka Mandala, Mataram, Minggu, 5 Juli 2026.

‎Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan penguatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku, tetapi juga harus menghidupkan budaya membaca melalui keluarga, komunitas, dan pelestarian permainan tradisional.

‎"Yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak bukan sekadar mendapatkan informasi, tetapi membangun cara berpikir yang runtut melalui kebiasaan membaca. Dari proses membaca itulah lahir pemahaman dan kebijaksanaan," kata Iqbal.

‎Ia menilai tantangan literasi saat ini bukan lagi sulitnya memperoleh informasi. Kehadiran mesin pencari dan kecerdasan buatan membuat jawaban tersedia dalam hitungan detik. Namun, menurut dia, kemudahan tersebut tidak boleh menghilangkan kebiasaan membaca secara utuh.

‎Iqbal juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali budaya membaca di lingkungan keluarga. Menurut dia, keluarga menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang gemar membaca dan berpikir kritis.

‎Kemah Literasi NTB 2026 yang berlangsung selama 3–5 Juli diikuti ratusan pegiat literasi dari berbagai daerah. Dari 150 relawan yang mendaftar, sebanyak 120 orang hadir, mulai dari Lombok Utara hingga Bima.

‎Bunda Literasi NTB Sinta M. Iqbal menyebut para relawan sebagai penggerak utama literasi di akar rumput. Selain mengajarkan membaca, mereka memanfaatkan permainan tradisional untuk menyampaikan berbagai isu sosial, seperti pencegahan perkawinan anak, kesehatan keluarga, dan pola pengasuhan anak.

‎Melalui GELITRA, Pemerintah Provinsi NTB menghidupkan kembali sedikitnya 170 permainan tradisional, seperti palentong, mancana, dan gasing, sebagai media pembelajaran. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat literasi sekaligus melestarikan budaya lokal.

‎Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Ashari, mengatakan pendekatan tersebut ikut mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) NTB. Pada 2025, NTB naik dari peringkat ke-28 menjadi peringkat kedua nasional.

‎Untuk mempertahankan capaian itu, pemerintah daerah terus memperkuat pengelolaan perpustakaan, mengoptimalkan peran Bunda Literasi hingga tingkat desa, memperluas kolaborasi dengan lebih dari 140 komunitas literasi, serta menjalankan program HIBAH SAKU bagi aparatur sipil negara dan Gerakan Membaca 25 Buku di luar silabus bagi pelajar.

‎Melalui GELITRA dan HIBAH SAKU, Pemerintah Provinsi NTB menargetkan budaya membaca tumbuh dari desa dan keluarga sebagai fondasi menyiapkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....