Mahasiswa UB Kini Bisa Tukar Botol Bekas Jadi Poin lewat Reverse Vending Machine

  • 29 Mei 2026 10:29 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) kini dapat menyetorkan botol plastik bekas ke mesin Reverse Vending Machine (RVM) yang disediakan di sejumlah titik kampus. Melalui mesin tersebut, botol plastik yang disetorkan akan dikonversi menjadi poin sebagai bentuk insentif sekaligus edukasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi UB dengan PT. LyondellBasell dalam mendukung target sustainability campus dan penguatan budaya peduli lingkungan di lingkungan perguruan tinggi.

Rektor UB, Prof. Widodo mengatakan, kerja sama dengan industri menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem kampus berkelanjutan. Menurutnya, isu sustainability tidak dapat diselesaikan sendiri oleh perguruan tinggi, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

“Kita bekerja sama dengan PT. LyondellBasell yang memberi perhatian luar biasa pada bidang ekonomi sirkular. Kerja sama ini penting karena sustainability goals itu kompleks, sehingga harus dikembangkan bersama antara civitas akademika dan industri,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Melalui RVM, mahasiswa diajak untuk mulai memilah sampah plastik sekaligus membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan. Mesin tersebut bekerja secara otomatis dengan menerima kemasan minuman kosong dan memberikan imbalan berupa poin kepada pengguna.

Prof. Widodo menilai keberadaan RVM bukan hanya soal teknologi pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran lingkungan hidup bagi mahasiswa.

“Ini sebagai upaya mengembangkan ekonomi sirkular, melakukan pemilahan sampah, sekaligus memberikan insentif bagi mahasiswa agar lebih peduli terhadap lingkungan,” katanya.

Sementara itu, President Director PT. LyondellBasell Advanced Polyolefins, Rakhma Febriani menjelaskan bahwa kerja sama tersebut menjadi bagian dari program perusahaan bertajuk “Advancing Good” yang berfokus pada lingkungan dan pengembangan generasi masa depan.

Menurutnya, perusahaan tidak hanya ingin mendorong pemilahan sampah plastik, tetapi juga mendukung proses daur ulang dan edukasi berkelanjutan di lingkungan kampus.

“Kami ingin membangun culture di mana mahasiswa bisa mulai memilah botol plastik, kemudian diproses lebih lanjut dalam ekosistem ekonomi sirkular,” ujarnya.

Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini menambahkan, cara kerja mesin RVM cukup sederhana. Pengguna hanya perlu memasukkan botol plastik ke dalam mesin, kemudian sistem akan menghasilkan poin secara otomatis yang terintegrasi melalui situs digital.

Poin tersebut nantinya dapat diklaim pengguna melalui pemindaian barcode yang tersedia pada sistem RVM.

“RVM ini akan ditempatkan di beberapa titik di UB seperti kantin Creative Land, Halalan Toyyiban, perpustakaan, dan lokasi lainnya di lingkungan kampus,” jelasnya.

Prof. Sri menyebut, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga perubahan perilaku mahasiswa dalam mengelola sampah.

“Kita perlu mengubah kebiasaan mahasiswa. Memperkenalkan teknologi saja tidak cukup, sehingga perlu edukasi, kampanye positif, dan workshop interaktif,” katanya.

Dari sisi industri, perwakilan PT. LyondellBasell, Mr. Rolf van Beck, menilai UB menjadi mitra strategis karena memiliki sekitar 70 ribu mahasiswa yang disebutnya sebagai calon pemimpin masa depan Indonesia.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan ide dan solusi baru terkait pengelolaan sampah plastik dan penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.

“Bagi saya, ini tentang menciptakan peluang dan ide baru mengenai bagaimana kita menerapkan ekonomi sirkular dan menyelesaikan persoalan sampah plastik,” tuturnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....