UB Jadi PTN Pertama Raih Predikat WBBM lewat FTAB

  • 13 Feb 2026 11:37 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) kembali menorehkan capaian nasional dengan meraih sekaligus mempertahankan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB).

Capaian ini menempatkan UB sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) pertama yang meraih predikat WBBM di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Predikat tersebut diraih melalui Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem UB (FTAB) yang sebelumnya bernama Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) sukses mempertahankan standar tertinggi Zona Integritas.

Rektor UB, Prof. Widodo, menegaskan bahwa implementasi Zona Integritas bukan sekadar memenuhi indikator administratif, melainkan bagian dari transformasi budaya kerja di lingkungan kampus.

“Zona Integritas melampaui angka-angka di atas kertas. Ini adalah langkah berkelanjutan untuk merawat kepercayaan masyarakat. Kami memastikan tata kelola anggaran di UB bertransformasi menjadi pelayanan publik yang berkualitas dan berorientasi hasil,” katanya, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, konsistensi UB dalam reformasi birokrasi telah dimulai sejak 2019. Keberhasilan FTAB mempertahankan predikat tertinggi selama lima tahun berturut-turut menunjukkan bahwa perubahan budaya kerja bukan tren sesaat, melainkan komitmen permanen institusi.

“Standarisasi WBBM adalah predikat tertinggi. Ini berarti fakultas tidak hanya bersih dari praktik korupsi, tetapi juga melayani dengan standar prima,” tambahnya.

Dekan FTAB, Prof. Yusuf Hendrawan menjelaskan bahwa capaian ini merupakan hasil transformasi digital dan penguatan integritas yang dijalankan secara sistematis. Ia memaparkan tiga poin utama yang menjadi dasar penilaian KemenPAN-RB.

“Pertama, evaluasi lima tahun pasca predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dengan melakukan perbaikan berkelanjutan pada enam area perubahan, terutama peningkatan kualitas pelayanan publik yang inklusif dan responsif,” tuturnya.

Kedua, penguatan ekosistem birokrasi berbasis digital untuk meminimalkan interaksi tatap muka dan menutup celah maladministrasi. Seluruh layanan dilakukan secara transparan melalui sistem terintegrasi, mulai dari persuratan, akademik, hingga keuangan.

“Digitalisasi total dilakukan melalui aplikasi terintegrasi. Kami juga menyediakan fasilitas ramah bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia sebagai bagian dari standar wajib WBBM,” jelasnya.

Ketiga, dampak nyata terhadap mahasiswa dan pemangku kepentingan. Hal ini tercermin dari Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang mendekati skor sempurna (skala 4). Survei dilakukan terhadap mahasiswa, orang tua, hingga mitra kerja sama, dengan hasil menunjukkan kepuasan yang sangat tinggi serta efisiensi layanan yang kini dapat diselesaikan dalam hitungan jam bahkan menit.

Prof. Widodo menambahkan, keberhasilan ini menjadi pijakan untuk mendorong seluruh unit kerja di UB mengikuti jejak FTAB. Seluruh fakultas dan unit telah menerapkan Zona Integritas dan ditargetkan secara bertahap meraih predikat WBBM.

“Kita ingin menciptakan birokrasi kampus yang bersih dan melayani, sekaligus menjadi contoh bagi institusi lain. Ini memang tidak mudah karena harus mengubah kultur kerja dan kultur melayani. Namun transformasi ini adalah investasi karakter bagi generasi muda,” tegasnya.
⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Ia juga membuka ruang evaluasi dan masukan dari masyarakat serta media sebagai bagian dari komitmen perbaikan berkelanjutan.

“Tidak ada institusi yang sempurna. Kami membuka diri untuk menerima saran demi perbaikan ke depan,” pungkasnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....