Koyo, Saat Ranu Klakah Mengajari Manusia Membaca Bahasa Alam

  • 11 Jul 2026 01:09 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang - Pagi masih diselimuti udara dingin ketika sejumlah warga mulai berdatangan ke tepian Ranu Klakah, Kabupaten Lumajang. Di tangan mereka tergenggam serok, jaring sederhana, hingga ember plastik. Tidak ada perlombaan menangkap ikan ataupun kegiatan khusus yang digelar hari itu. Warga datang karena mengetahui satu fenomena yang telah lama mereka kenal dengan sebutan Koyo.

Tak lama berselang, beberapa ikan nila mulai tampak berenang lambat di permukaan air. Udang pun sesekali muncul di tepian danau. Anak-anak berlarian mengejar ikan yang mudah dijangkau dengan serok, sementara orang dewasa mengamati permukaan air yang perlahan dipenuhi riak kecil. Bagi masyarakat sekitar, pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang asing. Fenomena tersebut hampir selalu muncul ketika suhu udara mulai menurun pada pertengahan tahun.

Bagi orang yang baru pertama kali menyaksikannya, Koyo mungkin terlihat seperti peristiwa ketika ikan tiba-tiba bermunculan di permukaan danau. Namun bagi masyarakat yang telah lama hidup berdampingan dengan Ranu Klakah, fenomena ini merupakan penanda alam yang selalu datang mengikuti perubahan musim. Pengetahuan itu hidup dari pengalaman, diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya, jauh sebelum istilah upwelling dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan.

Kearifan Lokal yang Tumbuh Bersama Alam

Di antara warga yang pagi itu ikut menyaksikan fenomena tersebut adalah Ashari, warga yang telah lama tinggal di sekitar Ranu Klakah. Baginya, Koyo bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Fenomena itu selalu hadir ketika udara mulai terasa lebih dingin.

"Kalau sudah seperti ini, warga biasanya bilang Koyo datang. Biasanya yang banyak muncul ikan nila, kadang juga udang," tuturnya.

Bagi masyarakat sekitar danau, perubahan suhu udara, arah angin, hingga karakter permukaan air telah lama menjadi petunjuk datangnya Koyo. Mereka mungkin tidak mengenal istilah ilmiah tentang dinamika massa air atau kadar oksigen terlarut, tetapi pengalaman hidup membuat mereka mampu membaca perubahan alam yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang tetap bertahan hingga kini. Di tengah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, masyarakat Ranu Klakah masih memegang pengalaman sebagai bekal untuk memahami lingkungan tempat mereka hidup.

Ketika Ilmu Pengetahuan Memberi Penjelasan

Apa yang selama puluhan tahun disebut masyarakat sebagai Koyo ternyata memiliki penjelasan ilmiah.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Yuli Harismawati, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan upwelling, yakni proses naiknya massa air dari lapisan dasar danau menuju permukaan akibat perubahan suhu udara maupun cuaca yang cukup ekstrem.

Menurutnya, air di dasar danau memiliki suhu yang lebih rendah dengan kandungan oksigen terlarut yang juga lebih sedikit. Ketika perubahan cuaca menyebabkan lapisan air teraduk, massa air dari dasar naik ke permukaan sehingga kadar oksigen di badan air menurun secara drastis. Kondisi inilah yang menyebabkan ikan mengalami stres karena kekurangan oksigen.

"Ikan bukan keracunan. Fenomena ini terjadi karena kandungan oksigen di dalam air menurun akibat proses alami. Karena itulah ikan tampak lemas dan muncul ke permukaan," jelasnya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa apa yang selama ini dipahami masyarakat melalui pengalaman ternyata sejalan dengan kajian ilmiah. Jika masyarakat mengenalnya sebagai Koyo, ilmu pengetahuan menyebutnya sebagai upwelling. Dua istilah yang berbeda itu menjelaskan fenomena alam yang sama.

Musim yang Dipahami Para Pembudidaya

Fenomena Koyo juga telah lama dipahami para pembudidaya ikan yang menggantungkan hidupnya pada Ranu Klakah.

Zakki Zulkarnain, salah seorang pembudidaya ikan setempat, mengatakan Koyo hampir selalu muncul ketika suhu udara mulai menurun pada pertengahan tahun.

"Iya, biasanya kalau musim dingin, di bulan-bulan ini sampai akhir Agustus memang sering terjadi Koyo," ujarnya.

Karena telah menjadi pola yang berulang setiap tahun, para pembudidaya mulai menyesuaikan strategi budidaya mereka. Jadwal penebaran benih, pemberian pakan, hingga waktu panen diatur agar tidak bertepatan dengan periode Koyo. Langkah tersebut menjadi bentuk adaptasi masyarakat terhadap dinamika alam yang telah mereka pahami selama bertahun-tahun.

Rezeki bagi Warga, Tantangan bagi Pembudidaya

Fenomena Koyo menghadirkan dua cerita yang berjalan beriringan.

Di satu sisi, masyarakat memperoleh kesempatan mendapatkan ikan segar dengan lebih mudah. Harga ikan nila yang pada kondisi normal berkisar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram umumnya turun karena banyak ikan harus segera dipanen sebelum kondisinya semakin melemah.

Di sisi lain, para pembudidaya ikan keramba harus mengambil keputusan cepat. Ikan yang belum mencapai ukuran ideal terpaksa dipanen lebih awal agar kerugian tidak semakin besar. Karena itu, memahami siklus Koyo menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha budidaya ikan di Ranu Klakah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya hidup berdampingan dengan alam, tetapi juga terus belajar menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang terjadi.

Bukan Karena Racun, Ikan Tetap Aman Dikonsumsi

Setiap kali Koyo terjadi, tidak sedikit masyarakat yang bertanya apakah ikan yang muncul ke permukaan masih layak dikonsumsi. Kekhawatiran tersebut umumnya muncul karena fenomena ini kerap disalahartikan sebagai dampak pencemaran air.

Yuli Harismawati memastikan anggapan tersebut tidak benar. Menurutnya, ikan yang terdampak fenomena Koyo tetap aman dikonsumsi selama masih dalam kondisi segar. Penyebab ikan muncul ke permukaan bukan karena limbah ataupun racun, melainkan akibat berkurangnya kandungan oksigen terlarut yang terjadi secara alami.

Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru. Di sisi lain, fenomena Koyo juga menjadi momentum untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai ekosistem danau serta pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

Belajar Mendengarkan Alam

Menjelang siang, aktivitas warga di tepian Ranu Klakah mulai berangsur normal. Ember-ember yang semula kosong telah terisi ikan nila dan beberapa udang hasil tangkapan pagi itu. Anak-anak berjalan pulang dengan wajah ceria, sementara para orang tua masih berbincang mengenai hasil tangkapan dan perubahan cuaca yang mereka rasakan.

Permukaan danau perlahan kembali tenang. Riak-riak kecil menghilang, seolah Ranu Klakah baru saja selesai menyampaikan sebuah kisah.

Mungkin beberapa hari lagi fenomena itu akan berlalu. Danau akan kembali seperti biasa, sementara aktivitas masyarakat berjalan sebagaimana mestinya. Namun warga sekitar tahu, ketika musim kembali berganti, Koyo akan datang lagi, sebagaimana telah terjadi selama puluhan tahun.

Masyarakat Lumajang menyebutnya Koyo. Ilmu pengetahuan menyebutnya upwelling. Nama boleh berbeda, tetapi keduanya mengajarkan pesan yang sama, alam selalu memberi tanda. Dan di tepian Ranu Klakah, masyarakat telah belajar membacanya jauh sebelum ilmu pengetahuan menjelaskan makna di balik setiap gejalanya. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....