ITB dan UB Kembangkan Wisata Berkelanjutan Berbasis Kearifan Riung

  • 14 Jul 2026 19:08 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Brawijaya (UB) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang berlangsung melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan itu bertujuan merumuskan strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan, konservasi, dan budaya lokal.

Dosen Universitas Brawijaya, Esa Fajar Hidayat, M.Si., melalui rilis yang diterima RRI Ende, Selasa 14 Juli 2026, mengatakan kegiatan tersebut dipimpin oleh Dr. Nia Kurniasih dan Dr. techn. Dudy Wijaya dari ITB bersama tim akademisi UB. Menurutnya, pengabdian ini tidak hanya memetakan potensi wisata, tetapi juga mengkaji hubungan antara bentang alam, kawasan konservasi, budaya, dan kehidupan masyarakat sebagai satu kesatuan.

Tim pengabdian menggandeng Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Ngada, pemerintah kecamatan, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, diskusi, dan pendekatan partisipatif agar hasil kajian mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Fajar menjelaskan Riung memiliki bentang alam pesisir yang masih terjaga, gugusan pulau kecil yang indah, kawasan konservasi, serta kekayaan budaya yang tetap lestari. Kombinasi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun destinasi wisata yang berkelanjutan tanpa mengabaikan identitas lokal.

Menurutnya, pengembangan kawasan tidak cukup hanya berorientasi pada objek wisata, tetapi harus memandang Riung sebagai sebuah sistem yang saling terhubung. Pendekatan ilmu kebumian atau Earth System digunakan untuk memahami keterkaitan antara ekosistem, sejarah, budaya, dan aktivitas masyarakat dalam satu kawasan.

Salah satu potensi yang menjadi perhatian tim adalah keberadaan komodo lokal atau mbou di Pulau Ontoloe yang berada dalam kawasan Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau. Keberadaan satwa endemik tersebut dipandang bukan hanya sebagai aset konservasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas bentang alam Riung.

27.95%

Fajar mengungkapkan penyebutan komodo yang berbeda di setiap wilayah menunjukkan kuatnya hubungan budaya masyarakat dengan satwa tersebut. Di Riung komodo dikenal sebagai mbou, sedangkan di wilayah lain memiliki sebutan berbeda yang mencerminkan sejarah dan tradisi masing-masing komunitas.

Dalam diskusi bersama Kepala Resor KSDA Riung, David Daing, S.ST., tim juga menemukan sejumlah tantangan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Salah satunya adalah penegasan batas kawasan yang masih memerlukan penyempurnaan karena berkaitan dengan sejarah wilayah adat dan hubungan sosial masyarakat.

Selain memetakan potensi alam, tim melakukan cultural mapping untuk mendokumentasikan tradisi, bahasa lokal, nilai sosial, dan praktik adat yang masih bertahan. Tradisi sirih pinang serta aturan adat pirong yang mengatur hubungan manusia dengan alam dinilai sebagai bentuk nyata konservasi yang telah hidup dalam kehidupan masyarakat sejak lama.

Fajar menegaskan seluruh hasil kajian akan menjadi dasar penyusunan basis data ilmiah bagi pengembangan Riung sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Ia berharap Riung dapat berkembang dengan karakter dan identitasnya sendiri, melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan tanpa kehilangan nilai budaya serta kelestarian lingkungannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....