Supergirl Tampil dengan Kisah Lebih Kelam di Film Terbaru DC

  • 29 Jun 2026 14:39 WIB
  •  Jember

RRI.co.id, Jember - DC Studios menghadirkan film Supergirl yang mengangkat sisi berbeda dari Kara Zor-El, sepupu Superman. Dilansir dari laman resmi DC pada 26 Juni 2026, film yang disutradarai Craig Gillespie dan ditulis Ana Nogueira tersebut menjadi film live action Supergirl pertama dalam lebih dari 40 tahun sejak perilisan film sebelumnya pada 1984.

Film ini diadaptasi dari novel grafis Supergirl: Woman of Tomorrow karya Tom King dan Bilquis Evely. Berbeda dengan kisah Superman yang identik dengan harapan dan optimisme, Supergirl menghadirkan petualangan luar angkasa yang mengeksplorasi trauma, kehilangan, dan pencarian jati diri.

Cerita berpusat pada Kara Zor-El yang melakukan perjalanan antargalaksi bersama seorang gadis muda bernama Ruthye. Dalam perjalanan tersebut, Ruthye berusaha membalas dendam atas kematian seluruh keluarganya. Di sisi lain, Kara juga harus menghadapi luka batin akibat kehancuran planet Krypton yang telah membentuk kepribadiannya selama bertahun-tahun.

Pemeran Kara Zor-El, Milly Alcock, mengatakan film ini memperlihatkan sisi emosional Supergirl yang belum pernah banyak ditampilkan di layar lebar. Menurutnya, karakter tersebut digambarkan sebagai sosok yang memiliki banyak luka, namun perlahan mampu menyembuhkan dirinya melalui perjalanan bersama Ruthye.

“Kami dapat melihat kisah asal-usul Kara dan seluruh trauma yang pernah dialaminya. Melalui perjalanan bersama seorang gadis muda yang mengalami nasib serupa, Kara akhirnya mampu menyembuhkan dirinya sendiri,” ujar Milly Alcock.

Penulis naskah Ana Nogueira menjelaskan film ini juga menampilkan Kara dalam kondisi tanpa kekuatan super saat berada di bawah sinar matahari merah. Menurutnya, kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi penonton untuk melihat sisi manusiawi Supergirl, lengkap dengan kerentanan dan emosinya.

Dalam proses adaptasi, Nogueira mengaku berupaya mempertahankan esensi dari komik aslinya. Ia menilai tantangan terbesar bukan sekadar memindahkan adegan ke layar lebar, melainkan menghadirkan perasaan yang sama seperti ketika pembaca menikmati cerita di dalam komik.

“Kami berusaha menerjemahkan emosi yang dirasakan pembaca ke dalam sebuah film. Situasinya mungkin berbeda, tetapi perasaan yang ingin disampaikan harus tetap sama,” kata Nogueira.

Sementara itu, Milly Alcock mengungkapkan dirinya mempelajari karakter Kara melalui novel grafis yang menjadi dasar film tersebut. Ia menilai semangat, keberanian, dan sisi rapuh Supergirl menjadi fondasi utama dalam membangun karakter selama proses syuting.

Film ini juga menampilkan Kara sebagai sosok yang berbeda dari Superman. Jika Clark Kent tumbuh di Bumi dengan kehidupan yang relatif stabil, Kara harus menyaksikan kehancuran dunia asalnya. Pengalaman tersebut menjadikan Supergirl sebagai karakter yang lebih emosional, penuh amarah, sekaligus berjuang menerima masa lalunya.

Melalui pendekatan tersebut, DC Studios ingin menghadirkan Supergirl bukan hanya sebagai pahlawan super, tetapi juga sebagai karakter yang merepresentasikan perjuangan manusia dalam menghadapi kehilangan, trauma, dan proses menemukan harapan baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....