Ketika Kopi, Cerita, dan Identitas Bertemu

  • 28 Apr 2026 12:53 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Di sebuah sudut kecil di Ende, perjalanan itu dimulai bukan dari rencana besar, melainkan dari keterpaksaan. Tahun 2017, saat kondisi ekonomi menekan, Carolus Naga tidak punya banyak pilihan selain mencoba bertahan—dengan cara yang sederhana: menjual kopi.

Modalnya hanya Rp150 ribu. Tak ada mesin canggih, tak ada tim. Ia mengerjakan semuanya sendiri, dari memilih biji, menyangrai, hingga mengemas. “Semua saya kerjakan sendiri. Owner, roaster, sampai tukang packing,” kenangnya dalam Obrolan Budaya RRI Ende, Senin, 27 April 2026.

Dari tangan yang sama, lahir sebuah nama: Virgil Coffee. Nama itu diambil dari penyair Romawi, Virgilius, yang ia yakini mewakili satu prinsip hidup—Fortune Favors the Bold. Keberuntungan, katanya, hanya datang pada mereka yang berani.

Keberanian itu terlihat dari pilihan-pilihan yang tak biasa. Saat banyak kopi tampil dengan warna gelap, ia justru memilih kemasan pink. Di tengah desain yang generik, ia menampilkan ilustrasi Bung Karno duduk merenung di bawah pohon sukun—sebuah potongan sejarah yang lekat dengan Ende.

Bagi Carolus, kopi bukan sekadar rasa. Ia adalah cerita.

“Orang beli bukan hanya karena kopinya. Mereka bawa pulang cerita dari Ende,” ujarnya.

Cerita itu ia rawat melalui media sosial. Ia berbagi tentang petani, proses panen, hingga perjalanan biji kopi sebelum sampai ke tangan konsumen. Perlahan, kedekatan itu tumbuh. Orang-orang mulai mengenal, lalu percaya.

Dari situ, langkah kecil mulai membesar. Virgil Coffee tak lagi sekadar kopi rumahan. Produk ini mulai dikenal sebagai kopi artisan, memenangkan penghargaan, hingga menembus panggung internasional seperti Dubai Expo.

Namun di balik pencapaian itu, Carolus tidak sepenuhnya lega. Ia melihat banyak petani kopi di Ende masih berjuang dengan harga dan kualitas yang belum stabil. Banyak yang belum berani mengikuti standar tinggi karena belum ada jaminan pasar.

Ia percaya, perubahan tidak cukup hanya dari pelaku usaha. Harus ada keberpihakan yang lebih besar.

“Kalau pasar jelas, petani pasti ikut berubah,” katanya.

Ia membayangkan suatu hari, kopi yang beredar di Ende didominasi oleh produksi lokal. Bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga jaminan hidup yang lebih baik bagi petani.

Perubahan kecil sebenarnya sudah mulai terlihat. Beberapa petani yang ia dampingi kini mampu meningkatkan pendapatan, bahkan memperbaiki kondisi rumah mereka. Bagi Carolus, itu bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa kopi bisa mengubah hidup.

Di tengah perjalanan itu, satu hal yang tidak berubah: keyakinannya untuk terus melangkah.

“Mulai saja dulu. Jangan terlalu banyak pikir,” ucapnya.

Dari keterpaksaan, lahir keberanian. Dari keberanian, tumbuh harapan. Dan dari secangkir kopi, cerita tentang Ende perlahan menjangkau dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....