Menziarahi Jejak Kata, Merawat Ingatan Para Pewarta

  • 07 Feb 2026 13:29 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Sabtu pagi, 7 Februari 2026, langit Ende masih lembut ketika satu per satu wartawan berkumpul di Warkop Mama Wulan, Jalan Eltari. Tak ada hiruk pikuk liputan, tak ada mikrofon atau kamera yang berebut suara. Yang ada hanya doa, pelukan hangat, dan ingatan yang pelan-pelan dibuka kembali.

Hari kedua rangkaian menyongsong Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Persatuan Wartawan Ende (PAWE) memilih berjalan ke masa lalu. Mereka datang bukan untuk berita baru, tetapi untuk nama-nama lama yang pernah mengisi ruang redaksi, menghidupkan halaman koran, dan menjaga nurani publik lewat tulisan.

PAWE menggelar silaturahmi ke keluarga wartawan senior yang telah berpulang, sekaligus ziarah dan doa bersama di pusara para pendahulu. Kegiatan ini dikoordinatori Tedja Rango, dengan Frid Siga sebagai Ketua Panitia, serta dihadiri Ketua PAWE Dedy Wolo, Fidel Dari, Om Pius, Om Alex, dan puluhan wartawan lainnya.

Setelah doa singkat, rombongan bergerak perlahan, mengunjungi rumah demi rumah. Di sana, bukan hanya cerita lama yang ditemukan, tetapi juga mata yang berkaca-kaca.

Nama-nama itu kembali disebut: Beni Hendrik, Philipus Huri, Marsel Mithe, Dami Manans, dan Heri Epu. Dulu mereka adalah wajah-wajah akrab dunia pers Ende, mengetik hingga larut, mengejar narasumber, berdiri paling depan saat publik butuh kebenaran.

Kini, yang tersisa foto di dinding, arsip koran menguning, dan kenangan keluarga. Di setiap rumah, percakapan mengalir pelan. Tentang bagaimana almarhum tak kenal lelah bekerja, tentang malam-malam panjang di lapangan, tentang gaji kecil tapi cinta besar pada profesi.

“Ini bukan sekadar agenda seremonial, kami ingin merawat ingatan. Semangat dan integritas mereka harus tetap hidup di wartawan muda.”ujar Fidel Dari menyampaikan pesan Ketua Panitia. 

Bagi keluarga, kunjungan itu terasa seperti kepulangan sahabat lama. Ada haru, ada bangga, karena orang-orang yang mereka cintai ternyata tak benar-benar dilupakan.

Yati Sala, istri almarhum Beni Hendrik, menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan perhatian keluarga besar PAWE yang masih mengingat jasa suaminya. Ia berharap silaturahmi seperti ini terus terjalin, agar kenangan dan persaudaraan antar insan pers tetap hidup dari waktu ke waktu.

“Terima kasih sudah datang dan tidak melupakan kami. Semoga silaturahmi ini selalu terjalin dan keluarga besar wartawan Ende tetap saling menguatkan,” ujar Yati dengan haru.

Ziarah di pusara para jurnalis menjadi penutup yang sunyi. Doa dipanjatkan, bunga ditabur, dan angin pagi seolah membawa kembali suara mesin tik yang dulu riuh di ruang redaksi.

Mereka mungkin telah tiada. Raga telah berhenti. Namun kata-kata mereka belum selesai.

Tulisan-tulisan itu masih hidup, dibaca, dijadikan rujukan, bahkan ikut membentuk arah pembangunan Ende. Mereka bukan sekadar penulis berita, tetapi pencatat zaman.

Dan hari ini, para wartawan yang masih berjalan belajar satu hal penting: jurnalisme bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang menghormati jejak kemarin. Sebab tanpa para senior, tak akan ada cerita yang bisa dilanjutkan.

Di antara doa dan kenangan, PAWE menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga solidaritas, kemanusiaan, dan sejarah pers Ende. Karena sejatinya, wartawan boleh pergi. Tapi jejak katanya akan selalu tinggal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....