Menapak Jejak Kenabian di Jabal Nur

  • 27 Jan 2026 21:32 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Hari masih pagi, sekira pukul setengah delapan kami bersiap menuju Jabal Nur waktu setempat. Rombongan yang seharusnya dua bus, namun agenda hari tersebut hanya diikuti satu bus saja. Sepanjang perjalanan menuju lokasi muthawif menjelaskan rute perjalanan yang kami lalui sekaligus memberi penjelasan singkat tentang salah satu situs bersejarah di kota Makkah ini.

Jabal Nur yang berarti gunung cahaya, merupakan salah satu situs penting, karena di tempat ini lah terdapat gua Hira, tempat dimana Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama kalinya dan bertemu malaikat Jibril. Terletak sekitar 4 km sebelah timur laut Masjidil Haram Makkah.

Menurut jamaah yang pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, jalur menuju Jabal Nur terasa berbeda. Kini sebelum menapaki Jabal Nur, jamaah akan melewati deretan toko oleh-oleh, mulai dari toko pakaian, parfum bahkan tersedia kuliner khas Indonesia yang diadaptasi dengan dengan kearifan lokal tanah Hijaz, seperti yang tertulis, bakso Onta. Namun, karena masih cukup pagi, sebagian besar toko masih tutup. Di sisi lain kaki gunung Jabal Nur terdapat museum Holy Quran yang baru dibuka pada Maret 2025.

Karena destinasi utama kami adalah Jabal Nur, maka muthawif mengarahkan kami untuk segera memulai perjalanan menapaki gunung cahaya ini, seraya mengingatkan jamaah untuk membawa air minum. “Beli minum dulu, “ demikian arahan muthawif. Kami pun bergegas membeli air mineral yang biasanya seharga 1 riyal, di tempat ini dibanderol 2 kali lipatnya.

Perjalanan dimulai, walaupun saat musim dingin dan masih pagi, cahaya matahari cukup menyengat, topi dan kacamata hitam lumayan bisa menghalaunya. Belum lagi, rute pendakian adalah bebatuan dan tanah gurun yang tandus, tidak seperti mendaki gunung pada umumnya di Indonesia, yang rimbun dengan pepohonan.

Di menit – menit awal perjalanan masih bisa teratasi, apalagi melihat jamaah usia lanjut yang pantang menyerah mendaki. Tapi sebagai orang yang jarang melakukan pendakian, sungguh perjalanan ini adalah tantangan. Rute yang panjang dan semakin menanjak ditambah pakaian yang digunakan tidak seperti halnya pakaian untuk melakukan pendakian, tetap dengan gamis bagi jamaah perempuan.

Ketika nafas sudah mulai tersendat, sesekali harus berhenti dan duduk di anak tangga, menarik nafas, atau meneguk air sambil mengabadikan kota Makkah dari ketinggian. Wajah yang mulai memanas terkena terik matahari, ditambah jalur pendakian yang semakin menanjak dan harus menapaki anak tangga. Sungguh, satu botol mineral yang menjadi bekal sangat membantu saat rehat. Bernasib sama,  banyak juga jamaah lain yang harus berhenti sesaat sebelum melanjutkan perjalanan.

Pemandangan kota Makkah dari ketinggian Jabal Nur (Foto: RRI/Ratih W)

Hampir tiba di puncak, mulai terlihat tenda-tenda sederhana tempat orang berjualan, menjajakan oleh-oleh khas, buah dan minuman. Keingintahuan akan keberadaan gua Hira, membuat segera ingin bergegas tiba di puncak.

Seperti halnya puncak gunung lainnya, areanya tidak terlalu luas ditambah dengan adanya tenda-tenda penjual dan ramainya jamaah. Batu – batu besar bisa menjadi pilihan untuk duduk melepas lelah atau sekadar mengabadikan momen. Gua Hira sendiri tidak terdapat di puncak gunung, melainkan harus menuruni lereng yang curam.

Dirasa cukup berbahaya melihat panjangnya antrian dengan lokasi yang tidak memungkinkan, sebagian besar dari rombongan pada akhirnya tidak mendatangi langsung Gua Hira. Menurut jamaah yang pernah berkesempatan masuk hingga ke dalam gua, pintu masuk ke dalam gua sangat sempit sehingga harus menunduk dan bagian dalamnya hanya cukup beberapa orang saja. “ Dulu saya sempat salat di dalam, karena tidak ngantri seperti ini, “ kata salah satu anggota rombongan.

Antrian jamaah di depan Gua Hira (Foto: RRI/ Ratih W)

Walaupun sebetulnya tidak dianjurkan, tapi banyak jamaah yang memanfaatkan waktu tersebut untuk salat di dalam gua. Demi keamanan dan kenyamanan, karena memang tidak ada yang mengatur jamaah di area ini, maka kami memutuskan hingga sampai di puncak, tidak turun ke punggung gunung menuju gua Hira. Cukup mengabadikan momen, memandang kota Makkah dari ketinggian, ziarah sekaligus menapaktilasi perjalanan Rasulullah Saw.

Sungguh perjalanan yang tak terlupakan, menapaki 1750 anak tangga dengan ketinggian gunung 640 meter di atas permukaan laut (mdpl). Rasa lelah yang dirasakan sangat tidak sebanding dengan apa yang sudah dialami Rasulullah Saw. Medan yang lebih berat karena gua terselip di antara tebing bukit dan tidak ada anak tangga.

Sebagai tips sebelum menapaki Jabal Nur, sebaiknya gunakan sepatu yang nyaman untuk menempuh jalur yang curam dan berbatu.  Gunakan sunblock,  topi dan kacamata hitam ketika matahari sudah mulai naik. Tas kecil untuk membawa minuman, camilan dan tentu barang penting lainnya. Bisa jadi membawa satu botol air minum tidak cukup untuk pendakian 1-3 jam.

Sebagai informasi, saat rute pendakian akan banyak ditemui anak – anak yang menjual air kemasan, kalau membeli dari salah satunya, maka penjual lain juga akan menghampiri Anda.  Dan jangan khawatir, ketika hampir tiba di kaki gunung, jamaah akan melewati minimarket. Duduk sejenak melepas lelah, sambil menikmati minuman dan camilan yang dijual atau membeli oleh – oleh.

Hindari mendaki di siang hari, karena matahari akan sangat menyengat. Ketika memilih jadwal pendakian di malam hari lengkapi diri dengan penerangan seperti senter. Dan pastikan sebelum mendaki, kondisi fisik dalam keadaan prima.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....