Unwira dan BBNTT Kolaborasi Hidupkan Literasi Perpustakaan Kampung Inklusif
- 17 Mei 2026 19:58 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Katolik Widya Mandira (LPPM Unwira) Kupang resmi berkolaborasi dengan komunitas Buku Bagi NTT (BBNTT) untuk menghidupkan akses perpustakaan kampung yang inklusif. Program strategis ini diintegrasikan melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang berlokasi di Desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang.
Inisiasi ini murni lahir sebagai bentuk perwujudan nyata dari nilai-nilai Tridarma Perguruan Tinggi yang menyentuh langsung aspek pengabdian masyarakat. Pihak universitas menyadari penuh bahwa produksi pengetahuan akademis di dalam kampus harus mampu memberikan dampak konkret serta menjawab persoalan riil di tengah masyarakat.
Kepada RRI dalam wawancaraya pada Sabtu, 16 Mei 2026, Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat LPPM Unwira, Yohanes Kornelius Ethelbert, menegaskan program desa binaan ini dirancang dengan komitmen jangka panjang demi menjamin keberlanjutan dampak. "Rencana kita adalah ini pekerjaan kita lima tahun bukan hanya tahun ini, makanya konsep keberlanjutannya sampai pada kemudian masyarakat di sana bisa mandiri dalam mengelola program literasi ini," ujar Yohanes.
Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada distribusi buku, tetapi juga membangun rasa memiliki masyarakat terhadap perpustakaan kampung. Menurutnya, perpustakaan inklusif harus menjadi ruang bersama yang hidup dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi hingga pengembangan sumber daya manusia.
Dalam pelaksanaannya nanti, mahasiswa KKN Tematik akan diterjunkan pada Juli hingga Agustus untuk mendampingi masyarakat secara langsung. Program literasi yang dirancang tidak hanya berupa kegiatan membaca, tetapi juga kelas kreatif guna memicu daya tarik anak-anak di desa.
Para mahasiswa KKN nantinya akan dibekali metode kreatif seperti pemutaran video cerita, kelas digital, hingga edukasi lingkungan yang unik. Permainan edukatif, literasi digital, hingga edukasi lingkungan dengan konsep membawa sampah sebagai tiket masuk kelas literasi.
Sebagai bentuk stimulasi awal, perpustakaan kampung inklusif ini rencananya akan dibuka di tiga titik strategis yang menjadi pusat berkumpulnya warga, yaitu kantor desa, rumah guru dan rumah ibadah. Kehadiran ruang baca tersebut diharapkan mampu mendekatkan akses literasi kepada anak-anak dan keluarga di desa, terutama di wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses informasi dan bahan bacaan.
Di sisi lain, komunitas Buku Bagi NTT (BBNTT) mengambil peran vital dalam hal pengadaan dan kurasi pasokan buku agar jenis bacaan yang disalurkan benar-benar relevan dengan kebutuhan lokal. Langkah kurasi berbasis data ini dinilai krusial agar gerakan literasi tidak berhenti sebagai program seremonial semata, melainkan menjadi ruang bertumbuh yang mandiri bagi warga desa.
Selain penguatan literasi, program desa binaan juga akan menyasar isu lain seperti kesehatan, penanganan stunting, pengembangan UMKM, hingga pengolahan pangan lokal berbasis multidisiplin ilmu. Sementara itu, Relawan Buku Bagi NTT, Renaldus Bonlae, menyatakan pendekatan inklusif ini digerakkan secara kolektif demi membuka aksesibilitas pendidikan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
"Kita mau semua bisa berdaya dan kita mau semua setara, sehingga kecil apa pun bentuk kita tetapi itu bermanfaat bagi orang lain itu sangat luar biasa," ungkapnya. Keduanya menegaskan keberlanjutan menjadi kunci utama program ini.
Melalui sinergi multidisiplin ilmu dari berbagai program studi di Unwira, program desa binaan ini diharapkan mampu menjadi pemantik utama peningkatan kualitas sumber daya manusia di Nusa Tenggara Timur. Kolaborasi ini juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat umum yang ingin berkontribusi menyumbangkan buku demi menyalakan terus lentera literasi di daerah pelosok. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....