Budaya Patriarki Dinilai Masih Hambat Kesetaraan Gender di Papua Barat

  • 14 Jul 2026 22:29 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Manokwari - Budaya patriarki yang masih mengakar di tengah masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menghambat perempuan memperoleh kesempatan yang setara di bidang pendidikan, pekerjaan, maupun kepemimpinan. Kondisi tersebut masih menjadi tantangan dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender di Papua Barat. Hal ini disampaikan oleh Dosen sekaligus aktivis perempuan dan anak Papua Barat, Yuliana Numberi pada Selasa, 14 Juli 2026.

Ia mengatakan konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi lebih dominan telah memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan. Menurutnya, pola pikir tersebut umumnya terbentuk sejak dalam lingkungan keluarga dan terus terbawa hingga ke ruang publik.

Yuliana menjelaskan, relasi kuasa yang dibangun dalam keluarga sering kali membuat laki-laki lebih diprioritaskan dibandingkan perempuan. Akibatnya, perempuan kerap memperoleh kesempatan yang lebih terbatas untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, maupun posisi strategis dalam pengambilan keputusan.

“Saya melihat masalah yang terjadi di Papua Barat, khususnya di Manokwari, adalah masih adanya relasi kuasa dan konstruksi sosial yang membentuk budaya patriarki. Itu berpengaruh terhadap posisi dan peran perempuan sehingga kesempatan mereka di ruang publik, termasuk dalam kepemimpinan, masih belum setara,” ujarnya.

Ia menilai anggapan bahwa perempuan kurang mampu memimpin atau akan terbatas karena peran domestik, seperti hamil dan melahirkan, masih sering dijadikan alasan untuk tidak memberikan ruang yang sama kepada perempuan. Padahal, menurutnya, perempuan memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan laki-laki dalam menjalankan tanggung jawab di berbagai bidang.

Lebih lanjut, Yuliana menegaskan bahwa hak perempuan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang telah dijamin dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu, setiap orang berhak memperoleh kesempatan yang sama tanpa adanya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.

Menurutnya, upaya menghapus ketimpangan gender harus dimulai dari perubahan pola pikir di lingkungan keluarga. Orang tua perlu menanamkan kepada anak laki-laki dan perempuan bahwa keduanya memiliki hak, kesempatan, serta tanggung jawab yang sama dalam kehidupan bermasyarakat.

Yuliana berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun budaya yang menghargai kesetaraan. Dengan menghilangkan praktik diskriminasi sejak dalam keluarga, perempuan akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang, berkontribusi dalam pembangunan, serta mengambil peran kepemimpinan di berbagai sektor kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....