Literasi Tak Hanya Membaca, tetapi Benteng Melawan Hoaks di Era Digital
- 16 Jul 2026 19:14 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan masyarakat dalam memilah dan memahami informasi menjadi semakin penting. Literasi tidak lagi dimaknai hanya sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima.
Hal tersebut disampaikan Angela Torimtubun, RELIMA Perpusnas RI Provinsi Papua Barat, dalam program Obrolan Komunitas PRO 4 RRI Manokwari.
Menurut Angela, masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar. “Literasi sangat penting untuk menangkal hoaks, memvalidasi berita, mengurangi salah tafsir informasi, dan membangun sikap kritis,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan tersebut perlu dibangun sejak anak berada di lingkungan keluarga. Kehadiran orang tua dalam mendampingi anak membaca, berdiskusi, maupun bercerita menjadi bagian penting dalam membentuk karakter anak. “Literasi bukan sekadar membaca, tetapi menumbuhkan karakter anak yang cerdas, kritis, berani mengemukakan pendapat, dan berani bercerita,” tambahnya.
Sementara itu, Nency Mayor mengajak masyarakat untuk memulai budaya literasi dari langkah sederhana.
Melalui Taman Baca Apori, ia berupaya menghadirkan akses bacaan bagi masyarakat dengan koleksi sekitar 300 judul buku, 500 eksemplar, serta layanan literasi digital.
Kedua narasumber sepakat bahwa budaya literasi tidak harus dimulai dari program besar. Membiasakan membaca bersama keluarga, berdiskusi, dan memanfaatkan fasilitas taman baca merupakan langkah nyata untuk membentuk masyarakat yang lebih cerdas, kritis, serta siap menghadapi tantangan era digital. Literasi keluarga menjadi fondasi penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap disinformasi
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....