Mengapa Ada Weekend? ternyata Begini Sejarahnya

  • 28 Jun 2026 07:38 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID ,Jember- Bagi banyak orang, akhir pekan atau weekend identik dengan waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau berlibur. Namun, tahukah Anda bahwa konsep dua hari libur di akhir pekan ternyata bukan sesuatu yang sudah ada sejak dulu?

Dilansir dari laman Britannica.com, weekend lahir melalui proses panjang yang melibatkan faktor agama, perjuangan hak pekerja, hingga perubahan sistem kerja modern.

Sejarawan ketenagakerjaan Benjamin Kline Hunnicutt, penulis buku Free Time: The Forgotten American Dream, menjelaskan bahwa akhir pekan merupakan hasil perjuangan panjang pekerja untuk memperoleh keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. "The weekend was won, not given." tulisnya. Pernyataan tersebut sering dikutip dalam pembahasan sejarah dunia kerja dan gerakan buruh modern.

Sebelum Revolusi Industri pada abad ke-18 dan ke-19, sebagian besar masyarakat bekerja mengikuti musim dan kebutuhan hidup. Ketika pabrik-pabrik mulai berkembang, banyak buruh harus bekerja enam hingga tujuh hari dalam seminggu, bahkan dengan jam kerja mencapai 10–16 jam per hari. Kondisi tersebut memicu berbagai gerakan buruh yang menuntut waktu kerja yang lebih manusiawi.

Konsep hari libur sebenarnya sudah ada jauh sebelumnya. Dalam tradisi Yahudi, hari Sabat (Sabtu) merupakan hari suci untuk beristirahat. Sementara dalam tradisi Kristen, hari Minggu menjadi hari ibadah. Di banyak negara, pekerja sering kali harus memilih salah satu hari untuk beribadah karena hanya mendapatkan satu hari libur.

Perubahan besar terjadi pada awal abad ke-20. Pada 1926, perusahaan otomotif Ford Motor Company menjadi salah satu perusahaan besar pertama di Amerika Serikat yang menerapkan lima hari kerja dengan dua hari libur, yakni Sabtu dan Minggu, tanpa mengurangi gaji pekerja. Kebijakan tersebut terbukti meningkatkan produktivitas sekaligus memberi lebih banyak waktu bagi masyarakat untuk beristirahat dan berbelanja. Model lima hari kerja ini kemudian diikuti oleh banyak perusahaan di berbagai negara.

Di Amerika Serikat, penerapan jam kerja yang lebih manusiawi diperkuat melalui Fair Labor Standards Act of 1938, yang menetapkan standar jam kerja dan lembur. Sejak saat itu, pola kerja lima hari dan libur dua hari semakin luas diterapkan di berbagai negara.

Pemilihan Sabtu dan Minggu sebagai akhir pekan merupakan kompromi antara kebutuhan keagamaan dan dunia kerja. Sabtu memberi kesempatan bagi pemeluk agama Yahudi menjalankan Sabat. Kemudian Minggu menjadi hari ibadah utama bagi umat Kristen. Seiring waktu, kombinasi dua hari tersebut diterima sebagai standar akhir pekan di banyak negara.

Namun, tidak semua negara memiliki akhir pekan yang sama. Beberapa negara di Timur Tengah, misalnya, menggunakan Jumat–Sabtu atau Jumat sore–Minggu sebagai akhir pekan untuk menyesuaikan dengan hari ibadah umat Islam.

Weekend bukan sekadar waktu untuk bersantai, melainkan hasil dari sejarah panjang perjuangan hak-hak pekerja, tradisi keagamaan, dan perubahan sistem industri. Berkat berbagai reformasi ketenagakerjaan, pola kerja lima hari dengan dua hari libur kini menjadi standar di banyak negara.

Meski demikian, bentuk akhir pekan masih dapat berbeda-beda, tergantung budaya, agama, dan kebijakan masing-masing negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....