Mengenal Jati Diri untuk Mengenal Allah

  • 18 Apr 2026 09:33 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Fenomena kegelisahan spiritual masih dialami sebagian umat, meskipun telah menjalankan rukun Islam secara lahiriah. Kondisi ini tercermin dari kisah seorang jamaah yang telah menunaikan syahadat, sholat, puasa, hingga ibadah haji, serta rutin berdzikir, namun tetap merasakan kehampaan dalam batinnya.

Menanggapi hal tersebut, Ustaz Dedi menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan secara rutin belum tentu menghadirkan kedekatan dengan Allah jika tidak disertai kesadaran batin yang mendalam. Menurutnya, umat perlu lebih peka terhadap tanda-tanda atau “sinyal ketuhanan” dalam kehidupan sehari-hari agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas.

“Ibadah itu bukan hanya gerakan lahiriah, tetapi harus menghadirkan rasa kedekatan dengan Allah,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, ia mengutip pemikiran Ali bin Abi Thalib yang menyebut bahwa manusia pada hakikatnya sedang “tertidur” di dunia dan baru akan “terbangun” setelah meninggal dunia. Hal ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sementara kesadaran sejati akan terbuka saat manusia kembali kepada Sang Pencipta.

Lebih lanjut, ia menyoroti kecenderungan manusia yang lebih fokus pada kebutuhan jasad dibandingkan jiwa. Menurutnya, perhatian terhadap aspek fisik dan materi sering kali menggeser kebutuhan rohani, padahal jiwa merupakan bagian utama yang tidak akan hancur bersama jasad.

“Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan batin dan berupaya mencapai ketenangan jiwa atau nafsu mutmainnah sebagai bagian dari tujuan hidup manusia,” lanjutnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa setiap manusia sejatinya telah memiliki kesaksian akan keesaan Allah sejak sebelum dilahirkan, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Namun dalam perjalanan hidup, kesadaran tersebut kerap tertutupi oleh kesibukan dan keterikatan pada hal-hal duniawi.

Menutup pemaparannya, Ustaz Dedi mengajak umat untuk melakukan refleksi diri dan meninjau kembali kualitas hubungan dengan Allah. Ia menegaskan bahwa tujuan hidup manusia tidak hanya menjalankan ibadah ritual, tetapi juga mencapai penghambaan secara menyeluruh.

“Ibadah harus mampu mencerahkan jiwa, bukan sekadar menggugurkan kewajiban,” pungkasnya. (Mey)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....