Harga Avtur Melonjak, Tiket Pesawat Mahal, Wisata Terancam Lesu

  • 13 Apr 2026 07:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) global mulai berdampak signifikan terhadap sektor transportasi udara dan pariwisata nasional. Kenaikan ini memicu mahalnya harga tiket pesawat, sehingga berpotensi menekan minat masyarakat untuk bepergian, khususnya ke destinasi wisata jarak jauh.

Berdasarkan penyesuaian harga dari PT Pertamina (Persero) per 1 April 2026, harga avtur domestik kini mencapai Rp23.551,08 per liter. Kondisi tersebut memaksa maskapai melakukan penyesuaian tarif guna menutup lonjakan biaya operasional.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, mengungkapkan bahwa harga avtur saat ini telah meningkat hingga 295 persen dibandingkan tahun 2019. Lonjakan ini menjadi tantangan serius bagi pemulihan industri penerbangan sekaligus pariwisata di berbagai daerah.

“Kondisi ini tentu berdampak langsung pada harga tiket dan daya beli masyarakat untuk bepergian,” ujarnya.

Sebagai langkah mitigasi, Kementerian Perhubungan menetapkan kebijakan fuel surcharge hingga 38 persen dari Tarif Batas Atas (TBA). Kebijakan ini bertujuan membantu maskapai bertahan, mengingat biaya bahan bakar dapat menyumbang hingga 40 persen dari total operasional penerbangan.

Di tingkat global, International Air Transport Association (IATA) melaporkan harga avtur di kawasan Asia telah mencapai US$204,95 per barel. Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada penerbangan domestik, tetapi juga menyebabkan tarif tiket internasional ikut melambung.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa harga avtur di Indonesia mengikuti mekanisme pasar global. Meski dinilai masih kompetitif di kawasan, tekanan biaya tetap dirasakan oleh industri penerbangan nasional.

Dampak lanjutan dari mahalnya tiket pesawat juga mulai terlihat pada berkurangnya frekuensi penerbangan ke sejumlah rute wisata. Maskapai cenderung melakukan efisiensi dengan memprioritaskan rute dengan tingkat keterisian penumpang tinggi.

Kondisi ini memaksa pelaku usaha pariwisata untuk beradaptasi. Berbagai paket wisata alternatif mulai ditawarkan, termasuk pemanfaatan transportasi darat dan laut yang dinilai lebih ekonomis bagi wisatawan.

Di sisi lain, masyarakat kini semakin selektif dalam merencanakan perjalanan. Faktor biaya menjadi pertimbangan utama, sehingga destinasi yang lebih dekat dan terjangkau mulai menjadi pilihan.

Situasi ini menjadi sinyal penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mencari solusi bersama. Stabilitas harga tiket pesawat dinilai akan sangat menentukan arah pertumbuhan industri pariwisata nasional di tengah dinamika harga energi global.

Sinergi antara pemerintah, maskapai, dan pelaku usaha pariwisata pun menjadi kunci agar roda ekonomi sektor ini tetap bergerak dan mampu bertahan menghadapi tekanan biaya yang terus meningkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....