Mendengarkan Sehat tanpa Toxic Positivity

  • 02 Apr 2026 18:16 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Fenomena toxic positivity yang marak belakangan ini justru menjadi tantangan baru dalam upaya membangun komunikasi yang sehat, khususnya dalam konteks mendengarkan. Sekilas terlihat baik dengan mengajak orang untuk selalu berpikir positif, namun jika dipaksakan, hal ini bisa berdampak sebaliknya. Alih-alih membantu, toxic positivity dapat membuat seseorang menekan emosi aslinya, hidup dalam penyangkalan (denial), dan menutup diri dari realitas yang sedang dihadapi. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru bisa memengaruhi aktivitas harian dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Christo Tulung, CHt, CCP, CMHFA, Konselor sekaligus Ketua Bidang Program Indonesia Sehat Jiwa, menjelaskan bahwa memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat dan “baik-baik saja” bisa menjadi beban tersendiri. “Kalau semua harus positif, akhirnya orang tidak jujur dengan emosinya sendiri. Mereka jadi tertutup, bahkan merasa harus selalu mampu menghadapi semuanya sendiri,” ungkapnya pada Rabu (1/4/2026). Tidak jarang, sikap ini juga memicu perilaku micro bullying, seperti meremehkan perasaan orang lain dengan kalimat, “ah, gitu aja kok sedih,” atau “harusnya kamu bersyukur.”

Dalam konteks mendengarkan, toxic positivity membuat seseorang sulit hadir secara utuh. Pendengar cenderung terburu-buru mengarahkan pembicaraan ke hal-hal positif, tanpa benar-benar memahami emosi yang sedang dirasakan lawan bicara. Padahal, proses mendengarkan yang sehat justru dimulai dari keberanian untuk menerima emosi, baik yang nyaman maupun yang tidak.

Di sisi lain, menjadi pendengar juga bukan hal yang mudah. Mendengarkan curhatan orang lain berarti kita ikut menerima “energi emosi” yang mereka bawa. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa membuat pendengar merasa lelah secara emosional. Christo mengingatkan pentingnya kesadaran diri bagi pendengar. “Kita juga perlu jujur, apakah cerita itu men-trigger kita atau tidak. Kalau memang tidak mampu, sampaikan dengan baik bahwa kita sedang tidak siap,” jelasnya. Selain itu, pendengar juga perlu memiliki cara untuk merilis emosi, misalnya dengan melakukan hobi atau aktivitas yang menyenangkan.

Bagi masyarakat yang belum memiliki ruang atau teman untuk bercerita, salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah journaling atau menulis perasaan. Cara ini cukup efektif untuk membantu mengenali dan mengelola emosi secara mandiri. Dengan menuliskan apa yang dirasakan, seseorang bisa lebih memahami dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.

Melalui pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat membangun budaya mendengarkan yang lebih empatik dan sehat. Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita memberi solusi, tetapi seberapa tulus kita hadir untuk mendengarkan yang akan membuat seseorang merasa benar-benar diterima.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....