Curhat Tak Selalu Cari Solusi, Tapi Butuh Didengar
- 01 Apr 2026 15:17 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kesadaran terhadap kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari kemampuan kita mengenali tanda-tanda seseorang sedang berada dalam kondisi rentan, termasuk keinginan untuk mengakhiri hidup. Dalam praktiknya, tanda-tanda ini sering muncul secara halus dalam percakapan sehari-hari. Mulai dari ungkapan perasaan tidak nyaman yang berulang, hingga pertanyaan-pertanyaan yang terdengar tidak biasa seperti, “enak nggak sih kalau tidur selamanya?” atau “mati itu kayaknya tenang ya.” Kalimat-kalimat seperti ini bukan untuk dianggap sepele, melainkan sinyal bahwa seseorang sedang membutuhkan perhatian dan ruang untuk didengar.
Dalam dialognya Bersama RRI Malang pada Rabu (1/4/2026), Christo Tulung, CHt, CCP, CMHFA, Konselor sekaligus Ketua Bidang Program Indonesia Sehat Jiwa mengatakan, penting bagi orang di sekitar untuk lebih peka terhadap perubahan cara bicara maupun emosi seseorang. “Kadang mereka tidak bilang secara langsung ingin mengakhiri hidup, tapi ‘spill’ lewat kalimat-kalimat kecil yang sebenarnya adalah bentuk minta tolong,” ujarnya. Oleh karena itu, kehadiran pendengar yang responsif menjadi sangat krusial dalam mencegah kondisi yang lebih buruk.
Namun, respon yang diberikan juga tidak boleh sembarangan. Banyak orang masih terbiasa merespon dengan menghakimi, menasihati secara berlebihan, atau bahkan membandingkan. Padahal, pendekatan seperti ini justru bisa memperparah kondisi emosional seseorang. Christo menekankan, “Jangan langsung di-judge. Kita perlu membuka ruang dulu, hadir, dan kalau memang ingin berbagi atau memberi tanggapan, sampaikan dengan cara yang aman.” Artinya, komunikasi harus dibangun dengan rasa aman, bukan tekanan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memberikan empati dan validasi terhadap emosi yang dirasakan. Mengakui bahwa perasaan sedih, lelah, atau putus asa itu nyata bagi mereka, menjadi pintu awal untuk membangun kepercayaan. “Validasi dulu emosinya, baru kemudian kita lihat apakah mereka butuh tanggapan atau solusi,” jelas Christo. Pendekatan ini membantu seseorang merasa diterima, bukan dihakimi, sehingga lebih terbuka untuk melanjutkan percakapan.
Curhat sendiri merupakan salah satu bentuk regulasi emosi yang sangat alami. Ketika seseorang bercerita, sebenarnya ia sedang mencoba menata kembali perasaan yang sempat kacau. Namun, respon yang tidak tepat justru bisa memperparah kondisi tersebut. “Curhat itu proses melepas emosi. Kalau responnya buruk, justru bisa membuat mereka semakin menutup diri,” tambahnya. Inilah mengapa keterampilan active listening menjadi sangat penting dimiliki oleh masyarakat luas, tidak hanya oleh tenaga profesional.
Menariknya, di tengah keterbatasan ruang aman untuk bercerita, sebagian orang kini beralih ke teknologi, termasuk curhat dengan AI. Fenomena ini menurut Christo memiliki dua sisi. “AI bisa memvalidasi emosi dan membantu mengonfirmasi apa yang dibutuhkan seseorang. Tapi ini juga jadi ironi, ketika orang merasa lebih aman bercerita ke AI daripada ke manusia,” ungkapnya. Hal ini menjadi refleksi bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan mendengarkan dengan empati dan tanpa penghakiman.
Melalui kondisi ini, penting bagi kita semua untuk belajar menjadi pendengar yang lebih baik. Karena pada akhirnya, kehadiran yang tulus, empati yang sederhana, dan kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi bisa menjadi langkah kecil yang menyelamatkan seseorang. Seperti yang ditekankan Christo, “Tidak semua orang butuh solusi, tapi semua orang butuh merasa didengar dan dipahami.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....