Akademisi Tekankan Deteksi Dini DBD dan Pemeriksaan Laboratorium

  • 05 Mar 2026 08:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kalangan akademisi memastikan vaksin demam berdarah dengue (DBD) yang didistribusikan di Kalimantan Timur (Kaltim) telah melalui uji keamanan dan memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Meski demikian, terdapat kelompok tertentu yang tidak direkomendasikan menerima vaksin tersebut.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Swandari Paramita, menjelaskan aspek keamanan vaksin telah dipertimbangkan secara ilmiah sebelum digunakan di masyarakat.

“Vaksin ini sudah mendapat izin BPOM, sehingga tingkat keamanannya telah dipertimbangkan. Namun, ada beberapa kondisi yang tidak disarankan menerima vaksin, seperti ibu hamil, lansia di atas 60 tahun dengan pertimbangan khusus, serta mereka yang memiliki penyakit penyerta serius,” ujar Swandari.

Ia menambahkan, alasan prioritas vaksinasi diberikan kepada anak sekolah karena kelompok usia tersebut relatif memiliki risiko komorbid lebih rendah dibandingkan kelompok usia lain.

“Anak sekolah menjadi sasaran karena secara umum mereka tidak memiliki komorbid sebanyak kelompok usia lain. Selain itu, jam aktivitas mereka bertepatan dengan jam aktif nyamuk penyebab DBD,” ucapnya.

Menurut Swandari, program vaksinasi DBD juga telah diterapkan di sejumlah negara tropis. Ia mencontohkan Brasil yang telah menjadikan vaksin DBD sebagai program nasional.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Prof. Dr. dr. Swandari Paramita, M. Kes, FISPH, FISCM, saat dialog bersama RRI. (Foto: Tangkapan layar youtube RRI Samarinda)

“Brasil memiliki karakteristik serupa dengan Indonesia sebagai negara tropis. Di sana vaksin DBD sudah menjadi program nasional. Kita mungkin masih bertahap, tetapi ke depan bisa saja menjadi program yang lebih luas,” katanya.

Terkait masih adanya kasus kematian akibat DBD, Swandari menilai faktor utama bukan pada fasilitas kesehatan, melainkan keterlambatan diagnosis dan penanganan.

“Teman-teman sejawat sudah berupaya maksimal. Fasilitas dan sistem juga cukup baik. Namun, banyak kasus terlambat dikenali karena gejala awal dianggap demam biasa. Keterlambatan diagnosis inilah yang berisiko fatal,” ujarnya.

Ia menegaskan, masyarakat perlu memahami pentingnya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika demam tidak membaik dalam beberapa hari atau disertai kondisi lemas.

“Jika demam tidak membaik setelah minum obat penurun panas dan kondisi makin lemah, segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu terlalu lama,” ucapnya.

Swandari juga menekankan perbedaan antara demam biasa dan DBD tidak bisa ditentukan hanya dari gejala klinis semata, melainkan harus melalui pemeriksaan laboratorium.

“Kami tidak bisa memastikan hanya dari demam atau muncul bintik merah. Harus ada pemeriksaan darah, termasuk trombosit dan parameter lain. Itu yang menjadi dasar diagnosis,” katanya.

Ia berharap masyarakat semakin sadar pentingnya deteksi dini dan tidak menyepelekan gejala demam pada anak. Dengan kombinasi vaksinasi, gerakan 3M, serta pemeriksaan cepat ke fasilitas kesehatan, risiko komplikasi dan kematian akibat DBD dapat ditekan secara signifikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....