Bonggol Jagung yang Dulu Dibakar, Kini Jadi Briket Bernilai Jual Berkat Inovasi UPM
- 18 Jul 2026 11:30 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo menghadirkan inovasi teknologi tepat guna untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi limbah pertanian di Desa Patalan, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Integrasi Teknologi Power Sprayer dan Scale-Up Limbah Bonggol Jagung sebagai Strategi Peningkatan Produktivitas Jagung, petani mendapatkan pendampingan dalam penggunaan teknologi modern serta pengolahan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi.
Program yang didukung pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 ini dilaksanakan oleh tim PKM UPM yang diketuai Dr. Lia Ardiansari, S.Pd., M.Pd., bersama Triyan Bayu Pratama, S.P., M.Pd., dan Agung Abdul Rahman Wiyono, S.H., M.H.
Ketua tim PKM, Dr. Lia Ardiansari, menjelaskan bahwa salah satu persoalan yang dihadapi petani jagung adalah proses penyemprotan pestisida dan pupuk daun yang masih menggunakan alat bertekanan rendah. Kondisi tersebut membuat penyemprotan kurang merata sehingga berpengaruh terhadap efektivitas pengendalian organisme pengganggu tanaman dan hasil panen.
Sebagai solusi, tim memperkenalkan penggunaan power sprayer bertekanan tinggi yang mampu menghasilkan semprotan lebih merata, efisien, serta menghemat waktu dan tenaga petani. Selain menyerahkan peralatan, tim juga memberikan pelatihan penggunaan, perawatan mesin, hingga praktik budidaya jagung yang lebih modern dan ramah lingkungan.
"Melalui integrasi teknologi power sprayer dan scale-up pemanfaatan limbah bonggol jagung, kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya meningkatkan produktivitas jagung, tetapi juga menciptakan pertanian yang berkelanjutan melalui konsep ekonomi sirkular. Harapannya, inovasi ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi limbah pertanian," ujar Dr. Lia Ardiansari kepada RRI, Jumat (17/7/2026)
Tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil produksi, program ini juga mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah bonggol jagung menjadi briket arang. Selama ini bonggol jagung umumnya dibakar atau dibiarkan menumpuk di lahan setelah panen. Padahal, melalui proses karbonisasi, penghancuran, pencampuran perekat, pencetakan, hingga pengeringan, limbah tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan memiliki nilai jual.
Pelatihan pembuatan briket mendapat respons positif dari Kelompok Tani Makmur Satu Desa Patalan. Selain membantu mengurangi pencemaran akibat pembakaran limbah terbuka, produk briket juga diharapkan menjadi peluang usaha baru berbasis hasil samping pertanian.
Rangkaian kegiatan pengabdian dilaksanakan secara bertahap, mulai dari sosialisasi, pelatihan penggunaan power sprayer, praktik pembuatan briket, pendampingan produksi, hingga monitoring dan evaluasi. Pendekatan partisipatif diterapkan agar petani dapat mengembangkan inovasi sesuai kebutuhan di lapangan.
Mitra program, Thomas, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, penggunaan teknologi baru mampu meningkatkan efisiensi kerja petani sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan limbah pertanian.
"Program ini sangat membantu petani di Desa Patalan. Penggunaan teknologi power sprayer membuat penyemprotan lebih cepat, merata, dan efisien, sementara pemanfaatan limbah bonggol jagung menjadi briket memberikan nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Kami berharap inovasi ini terus berlanjut dan dapat diterapkan oleh lebih banyak petani," katanya.
Melalui program ini, Universitas Panca Marga Probolinggo menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan melalui penerapan hasil riset yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat diharapkan mampu mewujudkan sektor pertanian yang lebih produktif, efisien, berdaya saing, serta berwawasan lingkungan.
Ke depan, model pemberdayaan melalui integrasi teknologi budidaya dan pemanfaatan limbah pertanian ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai sentra produksi jagung di Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....