Pengrajin Lestarikan Tihar Bernilai Ekonomi
- 18 Jul 2026 09:11 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Pengrajin Belu Pius Fahik terus melestarikan pembuatan tihar sebagai warisan budaya leluhur masyarakat. Kerajinan tradisional tersebut kini berkembang menjadi produk kreatif bernilai ekonomi bagi keluarga setempat.
"Tihar menjadi bagian penting dalam tarian Likurai yang mencerminkan identitas budaya masyarakat Belu sejak dahulu. Tanpa tabuhan tihar, tarian Likurai dianggap kehilangan makna budaya dan nilai tradisional utamanya bersama" tuturnya kepada rri.co.id Kamis, 16 Juli 2026.
Proses pembuatan tihar membutuhkan ketelitian sejak pemilihan kayu hingga pemasangan kulit kambing berkualitas terbaik. Penggunaan peralatan modern mempercepat pekerjaan tanpa menghilangkan teknik tradisional yang diwariskan leluhur turun-temurun.
Menurut Pius Fahik, kualitas bunyi ditentukan ketebalan tabung resonansi dan pemasangan kulit secara tepat. Ia terus melakukan inovasi menghasilkan suara nyaring dengan mempertahankan ciri khas kerajinan tradisional Belu.
"Generasi muda harus mencintai budaya agar warisan leluhur tetap lestari bersama, kerajinan tradisional mampu memberikan penghasilan sekaligus menjaga identitas budaya Belu kita,” kata Pengrajin Belu, Pius Fahik.
Pius mengaku minat generasi muda mempelajari pembuatan tihar masih tergolong sangat rendah hingga sekarang. Ia berharap pemerintah desa membentuk kelompok pelatihan agar regenerasi pengrajin dapat terus berlangsung berkelanjutan.
"Saya siap membimbing siapa saja belajar membuat tihar demi masa depan budaya, budaya ini harus diwariskan melalui keterampilan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat Belu bersama," ucapnya.
Kerajinan tihar diharapkan terus berkembang melalui dukungan masyarakat serta perhatian pemerintah daerah secara berkelanjutan. Pelestarian budaya diyakini mampu memperkuat identitas Belu sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengrajin lokal bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....