Memaknai Hari Autisme Internasional: Mendorong Empati dan Pendidikan Inklusif

  • 08 Apr 2026 14:22 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Hari Autisme Internasional yang diperingati setiap 2 April menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap individu dengan autisme. Peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mengajak semua pihak memahami bahwa setiap individu, termasuk penyandang autisme, memiliki hak yang sama untuk hidup, berkembang, dan dihargai martabatnya. Autisme bukan sekadar kondisi, melainkan bagian dari keberagaman cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi dalam kehidupan sosial.

Dalam rangka memperingati momen tersebut, Program “Ruang Disabilitas dan Inklusi” Pro 1 RRI Samarinda, Sabtu 4 April 2026, menghadirkan diskusi bersama sejumlah narasumber dengan tema, “Autisme dan Kemanusiaan: Setiap Kehidupan Bernilai”, yang menjadi ruang refleksi bersama untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif dan penuh empati terhadap penyandang autisme.

Pelaksana Program Preschool Skills di Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI), Muhammad Fathoni Semedi, menekankan pentingnya kesetaraan dalam dunia pendidikan. Ia menilai bahwa pendidikan inklusif harus menjadi standar bagi seluruh lembaga pendidikan tanpa terkecuali. “Pendidikan itu harus sejalan dan tidak ada diskriminatif antara pendidikan disabilitas dengan yang lain. Semua anak berhak mendapatkan layanan pendidikan inklusif,” ujarnya.

Namun, Fathoni mengakui bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar. Ia menyebutkan masih adanya kasus penolakan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di beberapa sekolah. Meski demikian, regulasi yang ada saat ini mendorong seluruh sekolah untuk bersifat inklusif. “Permasalahannya bukan hanya pada autisme itu sendiri, tetapi lingkungan yang belum sepenuhnya adaptif dan inklusif,” ucapnya.

Dari sisi keluarga, pengalaman berbeda disampaikan Novita Abu Kandariah, orang tua dari dua anak penyandang autisme. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari lingkungan sosial yang belum sepenuhnya memahami kondisi anak-anaknya. “Yang paling berat itu lingkungan, terutama pandangan orang-orang terhadap anak kita. Tapi saya selalu jelaskan bahwa anak saya tetap manusia, hanya berbeda,” kata Novita.

Novita memilih untuk bersikap terbuka sejak awal, baik di lingkungan tempat tinggal maupun di sekolah anak-anaknya. Ia percaya bahwa keterbukaan dapat mengurangi stigma negatif di masyarakat. Pendekatan ini juga membantu anak-anaknya lebih mudah beradaptasi dalam lingkungan sosial dan pendidikan yang inklusif.

Sementara itu, peran organisasi masyarakat dinilai penting dalam memperluas edukasi tentang autisme. Perwakilan organisasi disabilitas, Nurul Widayani, mengakui bahwa stigma negatif masih kerap muncul di tengah masyarakat. “Masih banyak yang menganggap anak autis itu seperti ODGJ atau berbeda secara negatif. Ini yang menjadi tugas kita bersama untuk meluruskan,” katanya.

Menurut Nurul, berbagai upaya telah dilakukan, termasuk edukasi melalui media dan kegiatan sosial. Ia juga mengungkapkan rencana penyelenggaraan kegiatan untuk memperingati Hari Autisme yang melibatkan anak-anak disabilitas dalam bentuk lomba dan aktivitas kreatif. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri sekaligus penerimaan sosial.

Diskusi tersebut juga menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat mulai tumbuh, meskipun belum merata. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk media, pemerintah, dan komunitas, dinilai sangat penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan menuju masyarakat yang inklusif.

Peringatan Hari Autisme Internasional tahun ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa inklusivitas bukan hanya tanggung jawab individu tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan membuka ruang empati, memperluas edukasi, serta menghapus stigma, setiap individu dengan autisme dapat tumbuh dan berkontribusi secara optimal dalam kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....