Petani Lombok Timur Jadi Penopang Utama Pasokan Pangan MBG

  • 01 Apr 2026 19:31 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Para petani di Kabupaten Lombok Timur kini memainkan peran strategis sebagai pemasok utama kebutuhan pangan untuk program MBG. Program ini mendorong pemanfaatan hasil produksi lokal secara maksimal, sehingga kebutuhan pangan dapat dipenuhi langsung dari sektor pertanian daerah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, menjelaskan bahwa MBG pada dasarnya merupakan sebuah pasar yang harus dipahami oleh para petani. “MBG ini sebenarnya adalah pasar. Artinya, petani harus mampu membaca kebutuhan pasar dan menyesuaikan pola tanam serta produksi agar sesuai dengan permintaan yang ada,” ujarnya. Rabu, 1 April 2026.

Menurutnya, sektor pertanian di Lombok Timur saat ini difokuskan pada penguatan ketahanan pangan, khususnya untuk komoditas utama seperti padi dan jagung yang telah mencapai swasembada. Dengan luas baku sawah sekitar 37 ribu hektare berdasarkan data LSDI, terdapat pula potensi tambahan dari pemanfaatan lahan pematang yang diperkirakan mencapai sekitar 5 persen dari total luas tersebut.

“Dengan luas lahan yang kita miliki, termasuk potensi pemanfaatan pematang sawah, ini bisa menjadi peluang besar untuk meningkatkan produksi, terutama komoditas hortikultura yang dibutuhkan pasar,” jelasnya.

Pemanfaatan pematang sawah dinilai memiliki peluang besar dalam mendukung diversifikasi produksi pangan. Area ini dapat digunakan untuk menanam berbagai jenis sayur-mayur dan tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang memiliki permintaan besar di pasar MBG.

“Kita dorong petani untuk memanfaatkan pematang sawah dengan menanam sayur-mayur atau tanaman hortikultura lainnya. Ini tidak hanya menambah penghasilan, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan pasar,” tambahnya.

Lebih lanjut, pembinaan terhadap petani terus dilakukan secara intensif melalui penyuluh pertanian. Pendekatan yang diterapkan mencakup dorongan untuk menghidupkan kembali pola pertanian yang beragam, termasuk integrasi tanaman pangan dengan hortikultura.

“Kami terus melakukan pendampingan melalui penyuluh agar petani bisa kembali menerapkan pola pertanian yang lebih beragam, tidak hanya fokus pada satu komoditas saja,” katanya.

Selain itu, masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian juga didorong untuk berpartisipasi melalui pemanfaatan pekarangan rumah.“Bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan sawah, pekarangan rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam kebutuhan pangan sehari-hari. Ini juga bisa menjadi kontribusi dalam mendukung program MBG,” ungkapnya.

Kebutuhan pasar dalam program MBG saat ini didominasi oleh komoditas sayur-mayur. Produk seperti kacang panjang menjadi salah satu yang paling banyak dibutuhkan, disusul berbagai jenis sayuran dari wilayah Sembalun yang dikenal sebagai sentra hortikultura, seperti wortel.

Selain itu, komoditas buah-buahan seperti pisang dan pepaya juga menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan program tersebut. “Permintaan pasar saat ini banyak pada sayur-mayur, seperti kacang panjang, serta produk hortikultura dari Sembalun seperti wortel. Buah-buahan seperti pisang dan pepaya juga cukup dibutuhkan,” terangnya.

Melalui penguatan peran petani lokal dalam rantai pasok MBG, pemerintah daerah berharap dapat menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan berbasis pasar.

“Kami berharap program ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui peluang pasar yang jelas dan berkelanjutan,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....