Alat Musik Sato Warisan Waturaka Terancam Punah di Ende

  • 03 Feb 2026 10:56 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Alat musik tradisional Sato dari masyarakat Ende Lio kini menghadapi ancaman kepunahan akibat minimnya regenerasi pemain muda dan terbatasnya ruang pelestarian budaya di tingkat komunitas maupun pendidikan formal.

Hal tersebut terungkap dalam Program Obrolan Spada Pro Dua RRI Ende yang menghadirkan Erlyn Wanda, guru musik SMKN 1 Ende sekaligus peneliti alat musik tradisional Sato. Dalam dialog tersebut dibahas sejarah, fungsi, kondisi terkini, serta tantangan pelestarian Sato sebagai identitas budaya lokal Ende.

Erlyn menjelaskan, alat musik Sato berasal dari Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, dan telah dikenal sejak tahun 1801. Sato awalnya menjadi hiburan tradisional masyarakat setempat, terutama bagi para petani yang menjaga kebun di malam hari.

Menurutnya, Sato sempat berada di ambang kepunahan sebelum kembali dilestarikan oleh almarhum Petrus Soba. Upaya tersebut kemudian diteruskan oleh Marcelinus Sato bersama keluarga di Waturaka, sehingga pengetahuan tentang alat musik ini masih bertahan hingga kini.

Secara fisik, Sato terbuat dari bahan alami seperti labu hutan, tempurung kelapa, kayu mahoni, dan bambu yang berfungsi sebagai resonansi suara. Alat musik ini hanya memiliki satu senar dan dimainkan dengan cara digesek sambil dipangku dalam posisi duduk bersila, mencerminkan kekhasan tradisi Ende Lio.

Seiring perkembangan zaman, fungsi Sato mengalami pergeseran. Jika dahulu dimainkan sebagai teman menjaga kebun, kini Sato lebih sering ditampilkan dalam acara adat serta sebagai hiburan bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Kelimutu.

Namun demikian, Erlyn menilai keberlanjutan Sato masih menghadapi tantangan serius. Mayoritas pemain Sato saat ini berasal dari kalangan usia lanjut, sementara minat generasi muda untuk mempelajari alat musik tersebut masih sangat terbatas.

Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan sarana pendukung. Sanggar seni di Desa Waturaka dilaporkan terdampak bencana, sehingga peralatan kesenian harus disimpan secara terpisah di rumah-rumah warga.

Erlyn berharap ada dukungan lebih konkret dari dunia pendidikan dan pemerintah daerah. Ia mendorong agar Sato dapat dimasukkan dalam kurikulum seni di sekolah sebagai bagian dari upaya menjaga identitas budaya lokal agar tidak tergerus zaman.

Pelestarian Sato dinilai bukan hanya menjaga alat musik semata, tetapi juga mempertahankan nilai, sejarah, dan jati diri masyarakat Ende Lio bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....