Waspada Microsleep, Tidur Sekejap yang Bisa Berbahaya saat Mudik Lebaran
- 28 Mar 2026 12:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Selama musim mudik lebaran Idulfitri 1447 Hijriah, tidak sedikit kasus kecelakaan lalu lintas akibat pengemudi yang mengantuk sehingga menyebabkan pengendara tertidur sejenak. Fenomena microsleep mungkin terdengar sepele, namun dampaknya bisa sangat serius dalam kehidupan sehari-hari. Microsleep adalah kondisi ketika seseorang “tertidur” secara singkat selama beberapa detik tanpa disadari. Meski berlangsung cepat, kondisi ini dapat mengganggu konsentrasi dan bahkan membahayakan keselamatan, terutama saat beraktivitas penting seperti berkendara.
Melansir dari National Sleep Foundation, secara umum, microsleep terjadi dalam durasi sangat singkat, mulai dari 1 hingga 30 detik. Pada fase ini, seseorang tampak tetap terjaga, bahkan dengan mata terbuka, tetapi otaknya tidak memproses informasi dengan baik. Hal inilah yang membuat microsleep sering tidak disadari oleh penderitanya.
Penyebab utama microsleep adalah kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk. Kondisi ini sering dialami oleh orang dengan aktivitas padat, pekerja shift malam, atau mereka yang mengalami gangguan tidur seperti insomnia dan sleep apnea. Selain itu, kelelahan fisik maupun mental juga dapat memicu otak “mematikan diri” sejenak untuk beristirahat.
Tak hanya itu, aktivitas yang monoton seperti mengemudi jarak jauh atau menatap layar dalam waktu lama juga meningkatkan risiko microsleep. Dalam situasi seperti ini, otak kurang mendapatkan stimulasi sehingga lebih mudah “tertidur” sekejap. Bahkan, konsumsi alkohol atau obat tertentu juga dapat memperparah kondisi ini.
Gejala microsleep sebenarnya bisa dikenali sejak awal. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain menguap berlebihan, mata terasa berat, kepala mengangguk, hingga kehilangan fokus secara tiba-tiba. Dalam beberapa kasus, seseorang juga tidak mengingat apa yang baru saja terjadi beberapa detik sebelumnya.
Meski terlihat ringan, microsleep bisa berakibat fatal jika terjadi pada situasi berisiko tinggi. Banyak kecelakaan lalu lintas dikaitkan dengan kondisi ini, terutama pada pengemudi yang kelelahan. Dalam hitungan detik saja, hilangnya fokus bisa menyebabkan kecelakaan serius di jalan raya.
Untuk mencegah microsleep, penting menjaga kualitas tidur yang cukup, idealnya 7–8 jam per hari. Selain itu, hindari aktivitas monoton terlalu lama tanpa istirahat, serta kenali tanda-tanda kantuk sebelum memaksakan diri beraktivitas. Dengan kesadaran yang baik, microsleep bisa dicegah sehingga keselamatan dan produktivitas tetap terjaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....