Ritual Adat Tuno Manuk Suku Lamaholot Flores Timur Yang Tak Lekang Ditengah Era Modernisasi

  • 04 Sep 2024 16:02 WIB
  •  Ende

KBRN,Ende: Setiap daerah di Indonesia memiliki karakter dan budaya yang berbeda-beda. Hal ini membuat Indonesia kaya akan corak kebudayaannya. Kekayaan dan keunikan kebudayaan menjadi ciri khas daerah tersebut dengan daerah lain. Perbedaan itu tampak pada bahasa, suku, adat-istiadat, agama, tarian, rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, tradisi, ritual-ritual dan unsur-unsur budaya lainnya ( Prior, 2008 : 66 ).

Berdasarkan pendapat tersebut hal yang sama pun berlaku dalam kebudayaan Lamaholot di Flores Timur. Dalam mengadanya sebagai manusia Lamaholot yang berbudaya selalu menjujung tinggi nilai-nilai ke-lamaholot-an yang terkandung atau terdapat dalam aneka ritual kebudayaan.

Suku Lamaholot memiliki aneka ritual kebudayaaan. Ritual ini dihidupi oleh masyarakat Demondei Kecamatan Wotan Ulumado- Flores Timur-NTT. Yang berada di ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut dengan jarak yang ditempuh dari pusat kecamatan ke desa Demondei adalah 7 km.

Ritual Tuno Manuk Lamaholot khususnya masyarakat adat Demondei dan desa Pandai ( Mewet) merupakan gabungan dua kata yaitu ‘Tuno’ dan ‘Manuk’. Jadi, Tuno Manuk berarti membakar ayam. Ritual Tuno Manuk di desa Demondei dan desa Pandai (Mewet) ini merupakan ritual yang dilakukan secara turun-temurun oleh para leluhur dan dilakukan kembali oleh tetua adat dan masyarakat setempat.

Dewasa ini penghayatan akan kearifan lokal ritus Tuno Manuk oleh masyarakat desa Demondei mengalami kemerosotan. Masyarakat desa Demondei menjalankan ritus Tuno Manuk hanya formalitas belaka tanpa memaknai proses jalannya ritual tersebut.

Hal ini dikatakan bahwa masyarakat Demondei lupa akan identitas dirinya serta ada kecenderungan begitu kuat dari manusia untuk melupakan warisan budaya karena modernitas atau terkikis karena tuntutan zaman yang terasa begitu kontra terhadap warisan budaya yang diturun temurunkan dari generasi ke generasi. Ritual Tuno manuk juga ada hubungannya dengan kekuatan gaib yang dikaitkan dalam segala ritualnya, termasuk benda ataupun simbol- simbol yang digunakan dalam ritual itu mengandung nilai magis.

Masyarakat Demondei yakin bahwa ritual tuno manuk yang dilakukan di atas koke sebagai tempat sakral, kudus, suci dan harus dihormati; tempat dimana mereka dapat menyampaikan doa, syukur, dan permohonan kepada Rera Wulan Tana Ekan melalui perantaraan leluhur. Tuno Manuk menjadi penghubung atau perantara antara manusia dengan Rera Wulan Tana Ekan ( Wujud Tertinggi).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....